Dialog RRI Purwokerto Bahas Inklusi, Aksesibilitas, dan Penguatan Hak Komunitas Tuli

Dialog RRI Purwokerto Bahas Inklusi, Aksesibilitas, dan Penguatan Hak Komunitas Tuli

Program Ruang Disabilitas dan Inklusi RRI Purwokerto mengangkat tema inklusi, kesetaraan aksesibilitas, dan hak-hak komunitas Tuli bersama Guru SLBB Yakut Purwokerto, Wiwi Kusmiati, S.Pd. Dalam dialog tersebut, Wiwi membagikan pengalamannya lebih dari 13 tahun mengajar siswa tunarungu, yang menurutnya memberikan banyak pelajaran berharga dibandingkan pengalaman mengajar di sekolah umum.

Wiwi menilai pemahaman masyarakat terhadap disabilitas, khususnya komunitas Tuli, mulai berkembang. Ia menjelaskan, inklusi berarti semua kalangan berhak memperoleh layanan yang ramah dan mudah dipahami oleh penyandang disabilitas.

“Ketika bertemu dengan anak-anak tunarungu atau anak disabilitas lain, memang mereka harus mendapatkan layanan yang ramah, layanan yang bisa mereka pahami,” kata Wiwi.

Terkait pendidikan inklusif, Wiwi melihat kondisi saat ini semakin baik. Ia menyebut banyak sekolah dan instansi mulai mempelajari bahasa isyarat. Upaya ini dinilai membantu siswa Tuli yang bersekolah di sekolah umum agar lebih mudah berkomunikasi dan mengikuti pembelajaran.

Meski demikian, ia mengingatkan masih ada tantangan karena kemampuan tiap anak dalam menangkap bahasa isyarat berbeda-beda. Karena itu, guru perlu menggunakan metode dan media pembelajaran yang lebih interaktif, termasuk memanfaatkan teknologi digital yang kini disebut sudah mendukung bahasa isyarat.

Wiwi juga menekankan pentingnya pengajaran bahasa isyarat sejak usia dini. Di SLBB Yakut, pembelajaran bahasa isyarat dimulai sejak jenjang taman kanak-kanak. Ia menceritakan pengalamannya menerima siswa pindahan dari sekolah umum yang belum mengenal bahasa isyarat sama sekali.

Dalam aspek aksesibilitas, Wiwi menilai fasilitas publik mulai membaik, terutama di pusat perbelanjaan dan rumah sakit. Namun, ia menegaskan hak komunitas Tuli masih perlu diperkuat, terutama terkait kesempatan di dunia kerja.

“Hak untuk pekerja mungkin di instansi-instansi ini silakan menerima anak-anak ABK baik itu tuna rungu maupun anak-anak yang lain,” ujarnya.

Wiwi berharap pemerintah, sekolah, dan masyarakat terus memperkuat kolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. Dengan sikap ramah dan terbuka, ia berharap komunitas Tuli dapat hidup setara dan nyaman di tengah masyarakat.

“Jadilah generasi muda yang saling memahami, saling sayang antar sesama, tidak membedakan teman disabilitas,” tambah Wiwi.