Centennials Ideas Dorong Generasi Z Tetap Kritis dan Tangguh di Tengah Pandemi

Centennials Ideas Dorong Generasi Z Tetap Kritis dan Tangguh di Tengah Pandemi

Kesenjangan keterampilan (skill gap) dan krisis talenta dinilai masih menjadi tantangan bagi lulusan baru di Indonesia. Kondisi ini disebut berpotensi berdampak pada perekonomian dan perkembangan bangsa ke depan, termasuk meningkatnya pengangguran dan pengangguran terselubung (underemployment) di kalangan anak muda.

Berangkat dari situasi tersebut, Centennials.id menggelar kegiatan bertajuk Centennials Ideas pada 26 November 2020. Acara ini disebut sebagai langkah untuk menaruh perhatian pada pengembangan Generasi Z, sekaligus mempersiapkan tantangan bonus demografi menuju 2045. Kegiatan menghadirkan pemateri dari Generasi Z serta mengundang generasi milenial sebagai generasi terdekat yang dinilai memiliki tanggung jawab membantu berbagai kalangan di tengah pandemi Covid-19.

Sesi monolog lintas isu

Centennials Ideas dibuka dengan sesi monolog yang dihadiri 10 orang dari Generasi Z dengan latar lintas sektor dan aktivisme, mulai dari isu lingkungan, kesehatan mental, kesetaraan gender, hingga pendidikan. Mereka adalah Alvinaldy Firtah (Ketua FOS DKI Jakarta), Dedy Uswanas (Owner Up All Might Caf), Salsabila Khairunisa (Founder Jaga Rimba), Manik Marganamahendra (Ketua BEM UI 2019 dan Co-Founder Centennialz.id), Rhaka Ghanisatria (Founder Menjadi Manusia), Andira Utami (Founder Pintar Sehat Peduli), Dinno Ardiansyah (Presiden Mahasiswa Trisakti 2019 dan Co-Founder Centennialz.id), Najmi Mumtaza (Wasekjen PP IPNU), Trivet Sembel (Founder dan CEO Proud Media Group), serta Sultan Rivandi (Ketua DEMA UIN Jakarta 2019 dan Co-Founder).

Menjaga harapan dan literasi politik

Sultan Rivandi, salah satu co-founder Centennials.id yang menjadi pembicara, menekankan pentingnya menjaga harapan Generasi Z meski terdampak pandemi. Ia menilai pandemi telah mengubah rutinitas secara drastis dan menekan ruang mimpi serta imajinasi anak muda.

Dalam sesi dialog bertema Gen Z Melek Politik, Sultan juga mendorong Generasi Z tetap kritis dan aktif mengawal isu kebijakan publik. Ia menekankan perlunya membangun budaya politik yang berbeda dengan mengedepankan nalar kritis, sopan santun, tidak saling membenci, serta menghargai perbedaan. Dialog ini turut menghadirkan Ketua YLBHI Asfinawati, Anggota DPR Puteri Komarudin, dan Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar.

Kolaborasi dan sikap kritis

Dinno Ardiansyah menyoroti pentingnya kolaborasi dan pola integrasi antarkelompok. Menurutnya, Generasi Z memiliki kekuatan jaringan yang perlu dimaksimalkan, termasuk dengan menjalin kerja sama bersama generasi milenial dan komunitas lain secara kontributif.

Sementara itu, Manik Marganamahendra menyampaikan perlunya Generasi Z bersikap kritis dalam melawan persepsi lama dan terlibat aktif dalam upaya mewujudkan keadilan bagi seluruh warga bangsa. Ia juga menyinggung kuatnya akar patriarki sebagai salah satu konteks sosial yang perlu dilawan melalui keterlibatan aktif.

Rencana kegiatan lanjutan

Penyelenggara menyatakan akan konsisten mengadakan pelatihan dan seminar pengembangan diri. Langkah ini ditujukan untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya Generasi Z, agar mampu bersaing dalam periode menuju Indonesia Emas dan menyambut bonus demografi.

  • Fokus isu: skill gap, krisis talenta, dan pengangguran muda.
  • Kegiatan: Centennials Ideas pada 26 November 2020.
  • Format: sesi monolog lintas sektor dan dialog bertema literasi politik.
  • Arah lanjutan: pelatihan dan seminar pengembangan diri bagi Generasi Z.