Cek Fakta: Video yang Diklaim Pengungsi Israel Pascaserangan Iran Ternyata Rekaman Warga Gaza 2025

Cek Fakta: Video yang Diklaim Pengungsi Israel Pascaserangan Iran Ternyata Rekaman Warga Gaza 2025

Sebuah video yang diklaim memperlihatkan kondisi pengungsi Israel setelah serangan Iran beredar di Instagram, Facebook, dan TikTok sejak 8 Maret 2026. Rekaman itu menampilkan ratusan orang berkumpul di area padang pasir, disertai narasi bahwa mereka adalah warga Israel yang kelaparan dan menunggu bantuan dari Amerika Serikat saat mengungsi.

Hasil verifikasi menunjukkan klaim tersebut keliru. Tempo melakukan penelusuran menggunakan reverse image search Google serta membandingkannya dengan sumber-sumber kredibel. Video yang beredar bukan merekam pengungsi Israel, melainkan warga Palestina di Gaza pada 2025.

Rekaman serupa tercatat pernah tayang di situs kantor berita Yaman, Saba, pada 27 Juni 2025. Dalam laporan itu, video dikaitkan dengan situasi distribusi bantuan melalui jalur udara yang diprotes organisasi Dokter Lintas Batas (MSF). Laporan tersebut menyebut distribusi bantuan via udara menelan 500 korban jiwa dan melukai hampir 4.000 orang, setelah akses darat ditutup sehingga bantuan terpaksa diterjunkan dari pesawat.

Video yang sama juga diunggah akun Facebook Hasn Shalan pada 2 Juni 2025. Unggahan itu menggambarkan kondisi warga Gaza yang menanti bantuan yang dijatuhkan dari udara.

Sementara itu, konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran dilaporkan terus berlangsung sejak serangan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 yang memicu aksi balasan Iran. Konflik juga meluas ke Lebanon setelah Hizbullah menembakkan roket dan drone ke Israel.

The Arab Weekly dan The New Humanitarian mencatat sekitar 3,2 juta warga Iran telah mengungsi. Adapun di Lebanon, lebih dari satu juta orang—sekitar 17 persen populasi—dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyebut krisis kemanusiaan ini mendorong jumlah pengungsi global ke tingkat tertinggi dalam sejarah. Situasi disebut kian rumit karena sumber daya bantuan menyusut setelah Amerika Serikat dan negara-negara Barat memangkas pendanaan bagi lembaga-lembaga kemanusiaan.