Sebuah video pendek yang beredar luas di media sosial mengklaim Kepala Staf Angkatan Darat India Jenderal Upendra Dwivedi “mengakui” bahwa India memberi tahu Israel mengenai lokasi persis sebuah kapal perang Angkatan Laut Iran. Dalam narasi video tersebut, kapal itu disebut kemudian ditenggelamkan oleh kapal selam Amerika Serikat di Samudra Hindia.
Klaim itu cepat menyebar dan memicu spekulasi serta tudingan bahwa India “berkhianat” terhadap Iran di tengah konflik regional yang memanas. Di Indonesia, salah satu unggahan video ini muncul di akun Instagram @laingosip dan telah ditonton sekitar 83 ribu kali saat informasi ini ditulis.
Dalam klip berdurasi sekitar 57 detik, suara yang dikaitkan dengan Jenderal Dwivedi terdengar mengatakan India merasa berkewajiban memberi tahu Israel tentang posisi kapal Iran di perairan internasional sebagai bagian dari “kesepakatan strategis baru” kedua negara. Narasi tersebut memicu kemarahan dan kekhawatiran warganet di kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah.
Namun, pihak berwenang India membantah klaim tersebut. Unit pemeriksa fakta Press Information Bureau (PIB) pemerintah India menyatakan video yang beredar merupakan deepfake, yakni hasil manipulasi digital yang dapat memalsukan audio dan visual untuk menyesatkan publik. PIB, seperti dilansir India Today, menyebut video itu banyak dibagikan akun-akun propaganda, termasuk yang berasal dari luar India dan terkait dengan narasi dari Pakistan. PIB juga menegaskan Jenderal Dwivedi tidak pernah membuat pernyataan seperti yang muncul dalam video viral tersebut.
Penelusuran digital oleh newschecker.in yang dipublikasikan pada 9 Maret 2026 menemukan bahwa klip viral itu berasal dari potongan video lain yang kemudian audionya diubah menggunakan rekayasa AI. Video asli yang digunakan sebagai sumber klip tersebut diketahui berasal dari sesi resmi Raisina Dialogue 2026 di New Delhi.
Rekaman lengkapnya, yang diunggah ke kanal YouTube Firstpost pada 7 Maret 2026, menampilkan Jenderal Dwivedi membahas pelajaran dari Operasi Sindoor, pendekatan India terhadap kontra-terorisme, serta pentingnya sinergi antar-lembaga militer. Dalam rekaman asli itu tidak terdapat pembahasan mengenai kapal Iran, Israel, maupun pembagian informasi intelijen seperti yang diklaim dalam versi viral.
Analisis lanjutan juga menunjukkan indikasi kuat adanya manipulasi. Sejumlah alat deteksi AI—termasuk Hive Moderation, Undetectable AI, Deepfake-o-meter, dan Hiya Deepfake Voice Detector—memberi sinyal bahwa audio dan visual video tersebut kemungkinan merupakan hasil rekayasa deepfake. Artinya, suara dan ucapan dalam video yang beredar bukanlah rekaman asli Jenderal Dwivedi, melainkan dibuat atau diubah secara digital.

