Sebuah video yang beredar di TikTok dan ditonton lebih dari satu juta kali menampilkan langit malam dengan kilatan cahaya merah. Unggahan itu disertai narasi yang mengklaim peristiwa tersebut sebagai “hujan rudal” dari Iran ke Israel, lengkap dengan suara teriakan dan teks “Iran melancarkan serangan rudal mematikan ke Israel.”
Hasil pemeriksaan tim Cek Fakta DW menyimpulkan klaim tersebut keliru. Video itu bukan merekam serangan Iran ke Israel, melainkan perayaan dengan kembang api di Aljazair.
Di kolom komentar, sebagian warganet menduga video itu merupakan buatan kecerdasan buatan (AI). Untuk memeriksa dugaan tersebut, tim Cek Fakta DW menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Analisis alat itu menunjukkan probabilitas video dibuat dengan AI hanya 19,1 persen, yang berarti video tersebut kemungkinan besar bukan konten hasil generatif AI.
Namun, verifikasi tidak berhenti pada hasil pendeteksi AI. Tim kemudian menelusuri asal-usul rekaman menggunakan metode reverse image search. Dengan mengambil beberapa potongan gambar dari video viral dan mencarinya melalui Google Reverse Image, ditemukan sejumlah video lain dengan visual serupa tetapi lebih jelas. Setidaknya ada dua video yang sangat mirip, dan pada kedua video itu tidak terdengar suara teriakan seperti pada video viral.
Informasi pada deskripsi dan komentar di video pembanding menyebutkan rekaman tersebut diambil saat perayaan ulang tahun ke-103 klub sepak bola Le Mouloudia Club d'Alger dari Aljir, Aljazair, pada 2024.
Tim Cek Fakta DW juga melakukan pelacakan lokasi (geolocation). Dari video viral dan video hasil penelusuran, terlihat penanda seperti jam besar dan kapal yang mengarah pada lokasi dekat pelabuhan. Dengan bantuan Google Street View, penelusuran difokuskan ke area pelabuhan di kota Aljir. Hasil pencocokan penanda visual mengarah ke Port d'Alger di Aljir, Aljazair. Temuan ini menegaskan video tersebut tidak direkam di Israel.
Untuk memastikan konteks, tim menelusuri media sosial akun resmi Le Mouloudia Club d'Alger dan menemukan video serupa dari sudut pengambilan berbeda dengan keterangan bahwa peristiwa itu merupakan perayaan ulang tahun klub ke-103. Kilatan merah di langit dalam rekaman tersebut adalah kembang api di sekitar pelabuhan, bukan serangan militer atau “hujan rudal.”
Dalam verifikasi video viral, pemeriksaan keaslian konten menjadi langkah penting, termasuk memastikan apakah video berasal dari kejadian nyata atau dibuat/dimanipulasi dengan AI. Analis Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, mengatakan penyebaran hoaks tanpa bantuan AI justru lebih besar dibandingkan hoaks yang menggunakan AI. Ia juga menekankan perangkat AI tidak dapat dijadikan rujukan final dalam penelusuran fakta. “AI membantu (penelusuran) tetapi bukan penentu akhir apakah sesuatu itu benar atau tidak […] tidak bisa hanya berhenti pada AI. Pada akhirnya, manusialah yang menentukan (hasil verifikasi),” ujar Nova.
Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Bayu Wardhana, menilai konten yang sengaja dibuat untuk menggiring opini bisa cepat menyebar di media sosial, terlebih jika dikaitkan dengan konflik internasional. Ia menyoroti bahwa Indonesia, meski jauh secara geografis, tetap memiliki keterkaitan dengan dinamika politik Timur Tengah sehingga isu semacam ini mudah menarik simpati.
Bayu mengimbau masyarakat lebih berhati-hati menyikapi informasi dari media sosial dengan memeriksa sumber, mencari konteks asli, serta melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikannya. “Sikap yang penting untuk tidak men-share lagi. Itu yang mungkin yang harus diedukasi. Kalau ragu, ya (konten) jangan dibagikan […] Mengonsumsi atau mengecek informasi dari sumber yang bisa dipercaya,” ujarnya.

