Sebuah video di TikTok yang menampilkan Dharma Pongrekun memicu perhatian setelah mengklaim bahwa kata “hanta” dalam “hantavirus” berasal dari bahasa Ibrani dan berarti omong kosong, pembohong, serta penipu. Video tersebut ditonton lebih dari 1 juta kali dan memancing ribuan komentar, dengan banyak warganet mempercayai klaim itu.
Hasil verifikasi Cek Fakta DW menyatakan klaim tersebut salah. Penelusuran menunjukkan, narasi itu berawal dari kesalahan jawaban chatbot AI dan kemudian menyebar luas di media sosial.
Menurut penelusuran DW, klaim bermula dari percakapan di platform X pada 10 Mei 2026. Seorang pengguna menanyakan arti kata “hanta” dalam bahasa Ibrani kepada Grok, chatbot AI milik platform tersebut. Grok saat itu menjawab bahwa “hanta” berarti penipuan, omong kosong, kebohongan, atau sesuatu yang palsu. Jawaban ini lalu beredar dan dipakai sebagian pengguna sebagai “bukti” bahwa istilah “hanta” memiliki makna tersembunyi.
Namun, jawaban tersebut keliru. Sejumlah pengguna X kemudian menunjukkan bahwa Grok mencampuradukkan “hanta” dengan kata slang Ibrani lain, yakni “kharta” atau “chartah”. Setelah dikoreksi, Grok merevisi jawabannya dan mengakui definisi sebelumnya salah. Kata yang maknanya lebih dekat dengan “omong kosong” adalah “kharta” atau “chartah”, bukan “hanta”.
Dalam penjelasan yang dirujuk DW, kata yang sering disebut sebagai “hanta” adalah “חנטה”. Kamus Ibrani Morfix mencatat kata ini tidak berkaitan dengan penipuan, kebohongan, atau omong kosong. Maknanya justru berkaitan dengan pematangan buah. Kata terkaitnya juga dapat berarti membalsem, atau dalam konteks pohon, berbuah atau matang.
Sementara itu, kata slang yang diakui Grok tertukar adalah “חרטא”, yang kerap ditulis sebagai “kharta”, “harta”, atau “chartah”. Morfix menandai “חרטא” sebagai slang dengan arti rubbish atau nonsense. Urban Dictionary juga memuat entri “Kharta Barta” sejak 2005 dan menjelaskannya sebagai slang Ibrani untuk “bullsh*t”, dengan catatan bahwa “kharta” dapat digunakan sendiri dengan makna serupa.
DW juga menegaskan bahwa nama “hantavirus” tidak berasal dari bahasa Ibrani. Artikel ilmiah “A Brief History of Bunyaviral Family Hantaviridae” menjelaskan virus yang semula disebut “KHF strain 76-118” kemudian dinamai “Hantaan virus, strain 76-118” karena berasal dari area Sungai Hantan.
The Korea Times turut mencatat bahwa hantavirus pertama kali diidentifikasi di area Sungai Hantan. Penyakit yang kemudian dikaitkan dengan virus ini pernah menjangkiti lebih dari 3.200 tentara PBB pada masa Perang Korea. Virolog Korea Selatan Lee Ho-wang lalu mengidentifikasi virus tersebut dari hewan pengerat yang ditangkap di dekat Sungai Hantan.
Dengan demikian, unsur “hanta” pada hantavirus merujuk pada nama geografis, bukan arti kata dalam bahasa Ibrani.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI menyatakan penyakit virus Hanta adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Orthohantavirus dan ditularkan melalui tikus dan celurut. Penularan dapat terjadi lewat urine, feses, saliva, atau debu yang terkontaminasi. Kemenkes juga menyebut hantavirus sudah terdeteksi di Indonesia dan perlu diwaspadai.
Isu ini kembali disorot setelah muncul klaster Hanta Pulmonary Syndrome di kapal pesiar MV Hondius, yang menurut WHO terkait Andes hantavirus. Meski demikian, epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono menegaskan hantavirus bukan virus baru dan pola penularannya tidak seperti Covid-19.
Pandu menyatakan sebagian besar penularan hantavirus terjadi dari hewan pengerat ke manusia dan tidak mudah menyebar antarmanusia. “Selama belum ada penularan yang kita yakinkan dari manusia ke manusia, selama itu kita tidak usah terlalu khawatir akan terjadi pandemi seperti COVID,” kata Pandu kepada DW Indonesia.
Namun, ia mengingatkan bahwa informasi keliru tentang penyakit tetap bisa merugikan. Bila suatu penyakit benar-benar menjadi ancaman, narasi bahwa penyakit itu rekayasa atau kebohongan bisa membuat masyarakat terlambat merespons.
Kasus ini juga menyoroti keterbatasan chatbot AI sebagai rujukan bahasa. Fact-Check Specialist Mafindo, Aribowo Sasmito, menilai jawaban AI tidak bisa langsung dijadikan bukti tanpa pemeriksaan ulang ke sumber yang lebih kuat, seperti kamus, ahli bahasa, sumber ilmiah, atau lembaga pemeriksa fakta. Menurutnya, chatbot dapat memberikan jawaban keliru jika rujukannya salah atau belum terverifikasi.
“AI itu juga ada periode belajarnya dan diajari oleh manusia juga. Mungkin awal-awal karena isunya belum ada yang memberi klarifikasi, mereka akan mengambil dari sumber-sumber yang sebetulnya bukan mengklarifikasi, tapi malah tambah menjerumuskan,” ujar Aribowo.