Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan amblasnya ruas Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) merupakan bencana alam dan bukan akibat kesalahan pihak tertentu. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Diskusi Kementerian Perhubungan bersama Harian Kompas pada Jumat, 5 April 2024.
Peristiwa amblas terjadi pada Rabu, 3 April 2024, pada bahu jalan dan jalur satu sebelah kiri arah Sukabumi. Ruas tol tersebut baru diresmikan Presiden Joko “Jokowi” Widodo sekitar setahun sebelumnya. Amblasnya jalan diduga berkaitan dengan longsor yang dipicu intensitas hujan tinggi.
Di tengah berbagai spekulasi penyebab kejadian itu, Budi menegaskan faktor alam menjadi penyebab utama. Ia menyebut kondisi tanah di wilayah Sukabumi memang rawan retak, serta mengingatkan bahwa jalur kereta api yang melintas di kawasan tersebut pernah mengalami longsor sebanyak dua kali.
Namun, penjelasan tersebut dinilai tidak sepenuhnya menutup kebutuhan evaluasi dari sisi pengelolaan dan perencanaan. Rian Mantasa Salve Prastica, dosen di Politeknik Pekerjaan Umum sekaligus mahasiswa PhD Teknik Sipil di University of Queensland, menilai faktor alam memang berperan, tetapi kejadian ini tidak murni dapat dilepaskan dari aspek mitigasi risiko yang semestinya masuk dalam perencanaan, inspeksi, dan pemeliharaan.
Menurut Rian, pengelola jalan tol seharusnya memiliki skenario mitigasi menghadapi cuaca ekstrem sejak tahap perencanaan, termasuk melalui inspeksi dan pemeliharaan rutin. Perencanaan Tol Bocimi sendiri disebut menggunakan aplikasi Bentley untuk mengembangkan 3D Building Information Modelling (BIM) dan alur konstruksi digital.
BIM merupakan teknologi dan proses yang memungkinkan integrasi berbagai tahapan proyek konstruksi ke dalam model digital 3D. Sistem ini membantu pengelolaan data proyek dari awal hingga akhir, meminimalkan kesalahan, mengurangi proses berulang, dan mempercepat durasi proyek. Dengan pendekatan tersebut, risiko gagal struktur akibat longsor seharusnya dapat ditekan seminimal mungkin.
Rian merujuk pada studi di salah satu ruas Tol Bocimi di atas Sungai Cikereteg yang menganalisis stabilitas kelongsoran lereng menggunakan Plaxis 2D. Dalam kondisi eksisting tanpa timbunan dan bored pile, nilai analisis stabilitas sebesar 1,044. Dengan timbunan, nilainya menjadi 1,196. Sementara pada kondisi timbunan dan bored pile, nilainya 1,274.
Ketiga nilai tersebut masih di bawah angka keamanan menurut SNI 8640:2017 yang mensyaratkan lebih dari 1,5. Dengan hasil yang masih di bawah standar itu, perencana dinilai perlu melakukan mitigasi untuk meningkatkan sifat geoteknik di area Tol Bocimi, misalnya agar nilai faktor keamanan kelongsoran mencapai minimum 2.
Berdasarkan simulasi menggunakan perkuatan, faktor keamanan dapat melebihi acuan SNI, yaitu 1,563. Meski demikian, angka itu disebut tidak otomatis menjamin tidak akan terjadi kegagalan struktur akibat longsor tanah ketika menghadapi cuaca ekstrem. Karena itu, skenario mitigasi seperti inspeksi dan pemeliharaan saat intensitas hujan tinggi tetap diperlukan.
Rian juga menekankan karakteristik geoteknik di Tol Bocimi rentan longsor tanpa perkuatan lereng. Bahkan setelah perkuatan dilakukan, inspeksi teratur tetap diperlukan, terutama saat cuaca ekstrem dan aktivitas kendaraan tinggi. Ia menambahkan, analisis yang dirujuk belum menghitung faktor hujan dalam kondisi ekstrem yang dapat membuat tanah lebih jenuh sehingga nilai keamanan kelongsoran dapat menjadi lebih rendah.
Selain itu, Tol Bocimi berada di wilayah Non-Zona Musim (Non-ZOM), yakni daerah dengan pola hujan yang tidak memiliki perbedaan jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Salah satu studi mengenai Tol Bocimi Section 2 juga menyebut tanah di kawasan tersebut memiliki kandungan air sangat tinggi. Ketika intensitas hujan meningkat, tanah dapat mencapai kondisi jenuh, menyulitkan pencapaian kandungan air optimum, dan berdampak pada kestabilan tanah di area proyek.
Atas dasar temuan dari studi-studi tersebut, kasus amblasnya Tol Bocimi dinilai patut menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengevaluasi penilaian tim perencana konstruksi Tol Bocimi serta tim uji laik fungsi jalan tol sebelum ruas itu dioperasikan.
Di luar faktor hujan dan kondisi tanah, perencanaan jalan tol juga disebut perlu mempertimbangkan perubahan tata guna lahan di sekitar koridor Tol Bocimi. Berdasarkan studi prediksi perubahan tata guna lahan di sekitar Tol Bocimi pada 2032, jumlah permukiman diperkirakan meningkat hingga 71,22% dan lahan terbuka berkurang hingga 57,84%.
Perubahan itu berpotensi meningkatkan limpasan air dibandingkan air yang terserap tanah, sehingga memerlukan kajian drainase banjir yang memadai. Jika tidak diantisipasi, limpasan dapat memengaruhi pondasi atau abutment jalan tol.
Kesimpulannya, faktor alam disebut menjadi salah satu penyebab amblasnya Tol Bocimi, terutama karena karakteristik tanah yang rentan terhadap hujan. Namun, faktor tersebut dinilai seharusnya sudah diperhitungkan secara matang dalam perencanaan, termasuk melalui mitigasi bencana, inspeksi, dan pemeliharaan. Dengan skenario risiko yang disiapkan sejak awal, kegagalan struktur dinilai dapat diantisipasi seminimal mungkin di masa mendatang.