Penyebaran hoaks dan informasi palsu di media sosial masih menjadi tantangan di tengah meningkatnya penggunaan internet. Karena itu, edukasi mengenai budaya cek fakta dinilai penting untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam menerima maupun membagikan informasi digital.
Praktisi literasi digital, Eflina Mona, menekankan kebiasaan memverifikasi informasi perlu dibangun mulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga dan kelompok pertemanan. Ia mengatakan masyarakat tidak perlu ragu menegur ketika menemukan informasi tidak benar beredar di grup percakapan atau media sosial.
“Kalau ada informasi yang ternyata tidak benar, jangan segan menegur langsung meskipun itu keluarga sendiri. Kita harus memberikan edukasi bahwa informasi tersebut salah dan perlu dicek dulu kebenarannya,” ujarnya dalam dialog Literasi Digital di Pro 1 RRI Malang, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Eflina, langkah sederhana seperti menelusuri sumber informasi melalui mesin pencarian dapat membantu menilai validitas suatu berita. Ia juga menganjurkan masyarakat membandingkan informasi dari beberapa sumber media yang kredibel sebelum mempercayai atau menyebarkannya kembali.
“Cari sumber datanya di Google, lakukan verifikasi. Minimal cari lima sampai enam artikel atau berita yang mendukung informasi tersebut. Lihat sumber beritanya jelas atau tidak. Jangan langsung percaya hanya karena muncul di media sosial,” katanya.
Ia menilai masyarakat perlu membiasakan diri menghentikan penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya untuk mencegah hoaks meluas dan menimbulkan dampak negatif. “Kalau informasinya belum jelas, cukup berhenti di kita saja. Tidak perlu langsung dibagikan. Kita harus bisa menilai apakah informasi itu layak disebarkan atau tidak,” ujarnya.
Eflina menambahkan, edukasi cek fakta dapat dilakukan melalui percakapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan komunikasi yang santai dinilai lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran dibandingkan sekadar memberikan larangan. “Kita harus ajarkan pelan-pelan. Sesimpel ngobrol dan mengingatkan mereka saat ada informasi yang meragukan. Kadang ada yang bilang supaya grup ramai, akhirnya asal kirim informasi tanpa dicek dulu. Padahal harus dikonfirmasi terlebih dahulu,” katanya.
Selain soal cek fakta, masyarakat juga didorong lebih selektif dalam mengakses informasi digital. Salah satu caranya dengan mengisi perangkat digital menggunakan sumber informasi yang relevan, terpercaya, dan sesuai kebutuhan pengguna, termasuk membantu anggota keluarga yang membutuhkan panduan.
“Kita bisa bantu orang tua atau keluarga dengan mengisi ponsel mereka menggunakan langganan informasi yang relevan dan terpercaya. Misalnya mengikuti akun edukasi, media resmi, atau subscription yang memang cocok buat mereka,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting, terutama bagi masyarakat yang masih kurang memahami teknologi digital, agar tidak mudah menjadi korban penipuan online, phishing, maupun tautan palsu yang kerap beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan. “Yang paling dikhawatirkan itu penipuan, phishing, atau link palsu yang disebarkan lewat pesan dan media sosial. Edukasi seperti ini penting terutama untuk membantu orang tua yang masih gaptek agar lebih aman saat menggunakan internet,” tuturnya.