Serial animasi asal Rusia “Masha and the Bear” menampilkan kisah seorang anak perempuan bernama Masha yang kerap berpetualang dan berinteraksi dengan beruang bernama Mishka. Dalam cerita, Mishka digambarkan melindungi Masha layaknya sosok ayah, terutama ketika anak itu melakukan hal-hal ceroboh.
Persahabatan keduanya bermula dari pertemuan tak sengaja. Pada episode pertama, Masha mengikuti kupu-kupu hingga masuk ke rumah Mishka. Beruang yang baru pulang memancing terkejut melihat rumahnya berantakan, lalu berkali-kali mencoba mengusir Masha tetapi gagal. Sejak itu, Masha sering berkunjung ke rumah Mishka.
Dalam serial tersebut, Mishka diceritakan sebagai beruang coklat Kamchatka yang pernah tampil di sirkus. Latar itu membuatnya digambarkan memiliki kemampuan seni pertunjukan seperti sulap, juggling, hingga bersepeda roda satu.
Di balik kisah yang menggemaskan, muncul pertanyaan: apakah hubungan dekat manusia dan beruang seperti itu mungkin terjadi di dunia nyata? Sejumlah ahli konservasi dan peneliti perilaku satwa liar menilai jawabannya tidak sederhana, namun banyak yang menekankan satu hal: beruang tetap hewan liar, terlepas dari seberapa jinak penampilannya.
Oded Berger-Tal, profesor ekologi di Ben-Gurion University of The Negev, menyatakan manusia tidak bisa menjalin persahabatan dengan beruang. Menurutnya, konsep persahabatan merupakan konstruksi manusia. Ia menjelaskan, beruang yang tampak bersahabat dengan manusia pada dasarnya hanya mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan, bukan membangun ikatan emosional.
Berger-Tal juga mengingatkan bahwa beruang yang sempat makan dari tangan seseorang tetap bisa berbalik menyerang pada kesempatan lain. Ia mencontohkan kasus Timothy Treadwell, aktivis yang menghabiskan bertahun-tahun hidup berdekatan dengan beruang grizzly liar di Alaska dan mengklaim telah “bersahabat” dengan mereka. Treadwell dan kekasihnya kemudian tewas dimangsa beruang.
Menurut Berger-Tal, kasus tersebut juga menunjukkan bahwa dampak “persahabatan” semacam itu tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga bagi beruang. Beruang yang membunuh Timothy kemudian ditembak mati, padahal hewan itu dinilai bertindak sesuai nalurinya.
Ia menilai bahaya bisa membesar ketika beruang mulai mengasosiasikan manusia dengan makanan. Begitu beruang belajar bahwa manusia berarti akses mudah terhadap makanan, hewan itu akan terus berupaya mendapatkannya dan kian sering berada dalam situasi yang akhirnya ditentukan oleh respons manusia.
Namun, tidak semua ahli sepenuhnya sependapat. Gordon M. Burghardt, profesor psikologi dan biologi ekologi di University of Tennessee yang pernah membesarkan anak beruang di rumahnya, mengatakan ikatan lintas spesies dimungkinkan, terutama pada beruang yang dibesarkan dalam penangkaran. Ia menyebut kedekatan itu dapat terbentuk kuat dan bertahan hingga beruang dewasa.
Burghardt membandingkannya dengan anjing peliharaan yang secara statistik membunuh lebih banyak orang per tahun dibanding beruang, tetapi tetap kerap disebut sebagai sahabat manusia.
Sementara itu, Shannon Donahue, Direktur Eksekutif Great Bear Foundation, menjelaskan bahwa beruang memiliki sifat dasar yang membuatnya tampak akrab dengan manusia, seperti rasa ingin tahu yang tinggi, pola makan yang mirip manusia, serta kemampuan beradaptasi.
Meski demikian, Donahue memperingatkan soal habituasi, yakni ketika beruang menjadi lebih toleran terhadap kehadiran manusia. Menurutnya, proses ini sering berujung pada kondisi berbahaya. Ia menilai, ketika manusia mendekati beruang untuk memotretnya atau membiarkan hewan itu berkeliaran di area perkemahan, tindakan tersebut dapat menimbulkan kesan keliru bahwa kedekatan dengan manusia tidak berisiko.
Donahue menambahkan, setiap tahun ada beruang yang terbunuh secara tidak perlu setelah mereka belajar menghabiskan waktu dekat manusia. Peringatan para ahli ini menegaskan bahwa meski kedekatan dapat terjadi dalam kondisi tertentu, beruang tetap satwa liar dengan naluri yang tidak bisa sepenuhnya diprediksi.