JAKARTA — Kenaikan biaya pendidikan menjadi salah satu kekhawatiran utama banyak rumah tangga, termasuk di Indonesia. Kebutuhan pembiayaan sekolah, kursus tambahan, hingga pendidikan tinggi membuat perencanaan keuangan jangka panjang kian penting, sementara kemampuan menabung keluarga kerap tertekan oleh pengeluaran harian yang terus meningkat.
Sejumlah studi internasional menyoroti bahwa persoalan menabung untuk pendidikan anak tidak semata ditentukan oleh besarnya dana, melainkan juga kebiasaan, waktu, dan strategi. Dengan pendekatan bertahap dan realistis, upaya menyiapkan dana pendidikan dinilai tidak harus menjadi beban yang terasa berat.
Laporan Education Finance Watch yang diterbitkan Bank Dunia dan UNESCO mencatat bahwa meski belanja pendidikan global terus meningkat, belanja pendidikan per anak di sejumlah negara justru stagnan atau menurun. Kondisi ini dipandang sebagai indikasi bahwa sebagian beban biaya pendidikan semakin banyak dialihkan kepada rumah tangga.
Sementara itu, OECD dalam publikasi Education at a Glance menyoroti adanya disparitas biaya pendidikan yang lebar antarnegara serta perubahan pola pembiayaan pendidikan. Situasi tersebut mendorong keluarga untuk menyiapkan dana pendidikan melalui perencanaan yang lebih sistematis dan berjangka panjang.
Di tengah tekanan biaya, berbagai survei menunjukkan kesadaran orang tua untuk menabung pendidikan relatif tinggi, meski tidak selalu diikuti kesiapan dana yang memadai. Survei Fidelity Investments di Amerika Serikat, misalnya, mencatat sekitar 74 persen orang tua menyatakan menabung untuk biaya pendidikan anak. Namun, nilai tabungan rata-rata disebut masih jauh dari kebutuhan masa depan, terutama ketika memperhitungkan inflasi biaya pendidikan.
“Meskipun orang tua memprioritaskan pendidikan perguruan tinggi anak-anak mereka, kenyataannya adalah menyeimbangkan pengeluaran sehari-hari dengan tabungan jangka panjang bisa menjadi hal yang menakutkan,” kata Tony Durkan, Vice President Fidelity, dikutip dari Money.com.
Pernyataan tersebut menggambarkan dilema yang kerap dihadapi orang tua: keinginan kuat menyiapkan masa depan anak berhadapan dengan ruang keuangan yang terbatas akibat kebutuhan rutin rumah tangga.
Dalam konteks itu, salah satu pendekatan yang banyak dianjurkan adalah memulai tabungan pendidikan sedini mungkin, meski dengan nominal kecil. Dalam jangka panjang, efek bunga majemuk dapat membuat dana yang terlihat kecil pada awalnya berkembang lebih signifikan seiring waktu, selama dilakukan secara konsisten.

