SURABAYA – Bani Insan Peduli (BIP) memberikan klarifikasi terkait isu “prank” bantuan sosial (bansos) yang mencuat setelah pendiri panti jompo Griya Lansia Malang, Arief Rakhman Hakim alias Arief Camra, menuding BIP membatalkan bantuan secara sepihak melalui media sosial.
Humas BIP, Kuswanto Ferdian, menjelaskan BIP menjalankan program Tour Jatim untuk penyaluran bantuan pada 14–15 Mei 2026. Kunjungan pertama dilakukan ke rumah Pak Purnomo yang dikenal sebagai “Polisi Baik” di Lamongan pada 14 Mei 2026.
Menurut Kuswanto, dalam kunjungan tersebut BIP menyalurkan bantuan berupa dua ekor sapi serta pembangunan masjid dengan nama awal “Bani” (Bakti Anak Nurani Ibu) sesuai permintaan pendiri BIP sebagai bentuk bakti kepada ibunda. Kuswanto menyebut bantuan itu senilai Rp1 miliar dan diberikan langsung oleh Ali Zaenal, serta permintaan penamaan disetujui.
Selain itu, Kuswanto mengatakan Pak Purnomo juga mengajukan permintaan bantuan ambulans, termasuk bantuan kesejahteraan bagi pasien orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) yang dirawatnya sebesar Rp500 ribu per orang.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke Griya Lansia Malang. Kuswanto menyampaikan pihak BIP menghubungi Arief Camra, dan Arief meminta agar BIP berkomunikasi langsung dengan pengasuh Yayasan Griya Lansia Malang, Nurhadi.
Di lokasi tersebut, Kuswanto menyebut pendiri BIP Ali Zainal menyerahkan bantuan berupa sapi, sembako, kursi roda, selimut, sajadah, mukena, sarung, serta uang untuk karyawan yayasan. Pemilihan Griya Lansia Malang sebagai titik penyerahan bantuan, menurut BIP, didasarkan pada kebutuhan kesejahteraan di yayasan itu.
Kuswanto menjelaskan, berdasarkan analisis kebutuhan, total bantuan senilai Rp1,5 miliar direncanakan untuk pembangunan masjid dan kesejahteraan warga panti jompo. Pada tahap awal, BIP menyerahkan bantuan senilai Rp250 juta untuk karyawan Griya Lansia Malang.
Namun, Kuswanto menyatakan, saat acara penyerahan bantuan berlangsung, Arief Camra disebut tiba-tiba menyodorkan berkas pembebasan lahan untuk pembangunan rumah yatim Griya Yatim Sidoarjo dan meminta bantuan dengan total Rp900 juta. Ia menegaskan permintaan di luar rencana tersebut tidak langsung ditolak. Ali Zainal, kata Kuswanto, bahkan menyanggupi permohonan itu dengan menjanjikan bantuan Rp1,1 miliar atau dilebihkan Rp200 juta.
Selanjutnya, Kuswanto menyebut tim BIP melakukan survei ke lokasi Griya Yatim di Sidoarjo dan memperkirakan harga rumah sekitar Rp400 jutaan. Berdasarkan temuan itu, BIP menyatakan terpaksa membatalkan rencana bantuan tersebut.
Di sisi lain, pendiri BIP Ali Zaenal menyampaikan penghormatannya kepada Arief Camra yang dinilai aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Ia berharap kesalahpahaman dapat menemukan titik terang. Ali juga mengatakan hubungan pribadinya dengan pihak Griya Lansia Malang dan Griya Yatim tetap baik.
Arief Camra diketahui merupakan pendiri sekaligus ketua yayasan panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah di Malang, Jawa Timur. Melalui akun media sosial pribadinya, Arief sempat mengunggah video klarifikasi terbuka yang menyatakan kekecewaannya terhadap BIP. Ia menilai BIP membatalkan komitmen bantuan sosial yang sebelumnya telah disampaikan di hadapan publik.
Saat dikonfirmasi, Arief Camra mengakui pihaknya telah disurvei beberapa kali. Ia menyebut persoalan utama berada pada penamaan masjid dan area pemakaman. Menurut Arief, ada kesepakatan bahwa bantuan akan dicairkan jika masjid diberi nama dengan label “Bani” di depan, yakni “Masjid Bani Griya Lansia”, namun ia menolak.
Arief juga menyebut perbedaan pandangan terjadi terkait penamaan pemakaman. Ia mengatakan pihaknya menawarkan agar nama yang diusulkan BIP diubah menjadi “pemakaman khusus warga Griya Lansia Blok 2 Bantuan Bani Insan Peduli”. Namun, ia menolak jika nama pemakaman menjadi “Bani Griya Lansia”. Arief menambahkan ia pernah mengusulkan penamaan masjid sebagai masjid bantuan dari masyarakat, dengan donatur utama Yayasan Nurul Hayat dan Yayasan Bani Insan Peduli, tetapi menurutnya usulan itu ditolak dan belum ada persetujuan dari pihak BIP.
Arief mengakui telah menerima bantuan Rp250 juta dan menyatakan dana tersebut telah dibagikan sesuai amanat kepada karyawannya. Ia mengatakan membagikan Rp2.500.000 kepada 49 karyawan dan Rp1.000.000 kepada 22 karyawan. Ia mengaku merasa tertekan dan tidak mendapat kepastian kelanjutan program bantuan, sehingga menanyakan kembali kepada Ketua BIP. Arief menyebut kemudian berkomunikasi melalui WhatsApp dengan Ali Zaenal untuk mentransfer sisa uang ke rekening yang bersangkutan.