Aturan Bagasi Kabin Makin Ketat: Faktor Berat Pesawat, Keselamatan, hingga Risiko Keterlambatan

Aturan Bagasi Kabin Makin Ketat: Faktor Berat Pesawat, Keselamatan, hingga Risiko Keterlambatan

Aturan bagasi kabin di berbagai maskapai penerbangan kian ketat. Salah satu yang terbaru datang dari Virgin Australia. Maskapai ini mengumumkan bahwa mulai 2 Februari 2026, penumpang hanya diperbolehkan membawa satu bagasi kabin berukuran standar 56x36x23 cm dengan berat maksimal 8 kg. Selain itu, penumpang masih dapat membawa satu tas pribadi kecil untuk ditempatkan di bawah kursi.

Laporan Daily Mail menyebutkan, penyesuaian serupa juga terjadi secara global. Pada Januari 2025, Air Canada membatasi penumpang kelas ekonomi dasar hanya boleh membawa satu barang pribadi yang diletakkan di bawah kursi untuk penerbangan domestik di Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, Amerika Tengah, dan Karibia. Kebijakan itu sekaligus menghapus jatah bagasi kabin standar untuk kategori tersebut.

Sementara itu, maskapai bertarif rendah Jetstar menerapkan ketentuan berbeda. Penumpang kelas ekonomi diperbolehkan membawa bagasi kabin total 7 kg, yang terdiri dari satu tas besar untuk kompartemen atas dan satu tas kecil untuk ditempatkan di bawah kursi di depannya.

Perbedaan kebijakan antar maskapai ini memunculkan pertanyaan: mengapa batas ukuran dan berat bagasi kabin tidak seragam?

Natasha Heap, mantan pilot dengan pengalaman 25 tahun, menjelaskan bahwa aturan bagasi kabin berkaitan langsung dengan batas berat lepas landas pesawat. Menurutnya, membawa terlalu banyak bagasi kabin bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan.

Heap mengatakan setiap pesawat memiliki batas berat lepas landas maksimum yang ketat. Perhitungan tersebut mencakup berat pesawat itu sendiri, bahan bakar, makanan dan minuman, kargo, pilot, awak kabin, serta penumpang dan bagasi.

Ia menambahkan, berat rata-rata penumpang meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini membuat maskapai perlu menyesuaikan alokasi berat untuk bagasi kabin. Heap mencontohkan bahwa pada 1998, ketika ia memulai kariernya, batas berat standar penumpang maskapai di Australia adalah 77 kg per orang.

Menurutnya, untuk pesawat berkapasitas 150 hingga 299 kursi seperti Boeing 737, berat standar penumpang pria dewasa saat ini diasumsikan 81,8 kg dan penumpang wanita 66,7 kg. Dari perhitungan tersebut, ia menyebut berat standar rata-rata untuk bagasi kabin adalah 7 kg per penumpang.

Meski demikian, Heap menyatakan setiap maskapai dapat mengajukan persetujuan untuk menerapkan batas berat sendiri bagi penumpang dan bagasi kabin, setelah mendapat persetujuan dari Otoritas Penerbangan Sipil. Mekanisme ini menjadi salah satu alasan mengapa kebijakan bagasi kabin antar maskapai dapat berbeda.

Selain faktor teknis dan regulasi, Heap menilai kemunculan maskapai bertarif rendah turut memengaruhi ketatnya aturan bagasi kabin. Maskapai seperti Ryanair, easyJet, dan Wizz Air dapat menawarkan tarif lebih terjangkau, tetapi penumpang kerap dikenai biaya tambahan untuk bagasi kabin, Wi-Fi dalam penerbangan, dan makanan.

Dari sisi operasional, bagasi kabin yang terlalu berat atau berukuran besar juga dinilai berpotensi menimbulkan keterlambatan saat proses naik pesawat. Heap menyebut keterbatasan ruang di kompartemen atas kerap membuat bagasi harus dipindahkan ke ruang kargo, yang pada akhirnya dapat memicu penundaan penerbangan.

Ia juga mengingatkan adanya risiko keselamatan bagi pramugari yang harus mengangkat bagasi berat. Kompartemen atas yang terlalu penuh, menurutnya, dapat menimbulkan potensi bahaya jika terjadi kecelakaan.

Di tengah permintaan perjalanan udara yang terus meningkat, maskapai memperketat batasan bagasi untuk mengurangi keterlambatan, melindungi staf, dan memastikan pesawat dimuat sesuai peraturan. Heap menegaskan, meski kebijakan ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang, aturan tersebut dinilai diperlukan demi keselamatan dan membantu penerbangan beroperasi tepat waktu.