PURWOREJO — Prof Dr Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata soal kurikulum, bangunan sekolah, atau angka kelulusan. Menurutnya, pendidikan merupakan perjalanan panjang untuk membangun martabat manusia.
Pandangan tersebut, kata Mu’ti, berakar pada sejarah Muhammadiyah yang sejak awal menempatkan pendidikan sebagai amal usaha utama. Ia menyebut, pendidikan bahkan telah dirintis sebelum Muhammadiyah resmi berdiri.
“Kalau kita membaca sejarah Muhammadiyah, pendidikan itu sudah dirintis bahkan sebelum organisasi ini resmi berdiri,” kata Mu’ti saat kunjungannya di Purworejo, Sabtu (24/1/2026).
Mu’ti mengingatkan, pada 1911—setahun sebelum Muhammadiyah didirikan—Kiai Ahmad Dahlan telah menyelenggarakan pendidikan di emperan rumahnya. Dari ruang yang sederhana itu, menurut dia, benih gerakan pendidikan Muhammadiyah mulai tumbuh.
Ia menyebut Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat sebagai amal usaha pertama yang menandai keyakinan bahwa umat dan bangsa hanya bisa maju jika pendidikannya maju. “Pendidikan adalah yang pertama dan yang utama,” ujar Sekretaris PP Muhammadiyah tersebut.
Lebih dari seabad kemudian, Muhammadiyah kini mengelola hampir 6.000 sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah itu menempatkan Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam dengan sekolah terbanyak di Tanah Air.
Mu’ti menggambarkan keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah dari Aceh hingga Papua dengan kondisi yang beragam. Ada sekolah yang berkembang pesat hingga daftar tunggu muridnya mencapai bertahun-tahun, namun ada pula sekolah di daerah tertentu yang masih berjuang mencari peserta didik.
“Ini realitas kita. Ada yang sangat maju, ada yang masih berjuang. Tapi justru di situlah nilai perjuangannya,” kata Mu’ti.
Ia juga menyinggung kiprah Muhammadiyah di Papua sebagai cerminan wajah pendidikan yang inklusif.

