Nama Abdel Achrian mendadak ramai dicari.
Di Google Trend, publik menautkan sosok komedian dan presenter itu dengan kabar kuliah S2 Komunikasi Politik pada usia 56 tahun.
Isu ini tampak sederhana.
Namun justru karena kesederhanaannya, ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam.
Di tengah banjir kabar konflik, skandal, dan ketegangan politik, berita tentang seseorang yang kembali ke kampus terasa seperti jeda yang menenangkan.
Orang bertanya, mengapa sekarang.
Mengapa S2.
Mengapa Komunikasi Politik.
Dan mengapa pada usia 56.
Di situlah berita ini berubah dari sekadar kabar selebritas menjadi cermin sosial.
-000-
Mengapa Ini Menjadi Tren
Ada tiga alasan yang membuat kabar ini cepat menyebar.
Pertama, ia mematahkan stereotip tentang usia dan pendidikan.
Di Indonesia, kuliah sering dipersepsikan sebagai urusan “tepat waktu”.
Lulus SMA, kuliah S1, lalu bekerja.
Ketika pola itu dilanggar, publik terkejut sekaligus tergerak.
Kedua, nama Abdel membawa daya jangkau.
Figur publik membuat isu pendidikan terasa dekat, bukan wacana abstrak.
Orang yang jarang membaca rubrik edukasi pun ikut membicarakannya.
Ketiga, jurusannya memantik rasa ingin tahu.
Komunikasi politik terdengar relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama saat masyarakat lelah oleh polarisasi dan banjir informasi.
Kombinasi usia, ketokohan, dan jurusan membuat berita ini mudah menjadi percakapan lintas kelompok.
-000-
Di Balik Kata “Respek”
Judul berita memuat satu kata yang kuat: respek.
Kata itu bukan sekadar pujian.
Ia adalah pengakuan diam-diam bahwa belajar membutuhkan keberanian sosial.
Di usia matang, seseorang sering dibebani harapan untuk “sudah selesai” dengan pendidikan.
Ruang kelas dianggap milik yang muda.
Padahal, pengetahuan tidak mengenal kalender biologis.
Ketika orang dewasa kembali belajar, ia harus menegosiasikan rasa sungkan, rasa takut tertinggal, dan tuntutan pekerjaan.
Respek muncul karena publik menangkap adanya pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
Waktu yang diambil dari rutinitas.
Energi yang dibagi dengan keluarga.
Dan kerendahan hati untuk kembali menjadi murid.
-000-
Pendidikan Sepanjang Hayat, Bukan Slogan
Gagasan pendidikan sepanjang hayat sering terdengar di pidato resmi.
Namun ia jarang hadir dalam percakapan sehari-hari sebagai sesuatu yang realistis.
Berita tentang Abdel membuat konsep itu terasa nyata.
Ia mengubah “lifelong learning” dari jargon menjadi kisah.
Secara konseptual, pendidikan sepanjang hayat menekankan kemampuan beradaptasi.
Masyarakat berubah cepat.
Teknologi menggeser pekerjaan.
Informasi melimpah, tetapi tidak selalu bermakna.
Dalam situasi seperti itu, belajar bukan lagi kemewahan.
Belajar adalah strategi bertahan.
-000-
Komunikasi Politik dan Keseharian Warga
Komunikasi politik sering disalahpahami sebagai ilmu untuk para politisi.
Padahal, ia juga membahas bagaimana warga menerima, menafsirkan, lalu merespons pesan kekuasaan.
Di era media sosial, politik hadir di gawai.
Ia masuk lewat meme.
Lewat potongan video.
Lewat komentar yang mengundang amarah.
Komunikasi politik mempelajari proses itu.
Bagaimana agenda dibentuk.
Bagaimana citra diciptakan.
Bagaimana emosi publik digerakkan.
Ketika seorang figur publik memilih bidang ini, wajar publik bertanya tentang maknanya.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah dampaknya bagi masyarakat.
Apakah diskusi publik bisa menjadi lebih sehat jika lebih banyak orang memahami cara kerja pesan politik.
-000-
Isu Besar Indonesia: Literasi, Kepercayaan, dan Kualitas Demokrasi
Tren ini dapat dikaitkan dengan isu besar yang sedang dihadapi Indonesia.
Yang pertama adalah literasi.
Literasi tidak hanya soal membaca teks.
Ia juga soal membaca konteks.
Di ruang digital, konteks sering hilang.
Orang bereaksi sebelum memeriksa.
Yang kedua adalah kepercayaan publik.
Kepercayaan mudah retak ketika informasi simpang siur.
Ketika komunikasi politik dipahami sebagai manipulasi semata, warga makin sinis.
Yang ketiga adalah kualitas demokrasi.
Demokrasi membutuhkan warga yang mampu menilai argumen, bukan sekadar mengikuti emosi kelompok.
Belajar, dalam arti luas, adalah prasyarat kewargaan yang matang.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Belajar di Usia Dewasa Penting
Riset pendidikan orang dewasa menekankan bahwa motivasi belajar berubah seiring usia.
Orang dewasa cenderung belajar karena kebutuhan, bukan kewajiban.
Dalam kajian andragogi, pembelajar dewasa membawa pengalaman sebagai modal.
Pengalaman itu membuat diskusi kelas lebih kaya.
Namun juga menuntut metode yang menghargai kemandirian.
Riset tentang pembelajaran sepanjang hayat juga sering mengaitkan pendidikan dengan partisipasi sosial.
Orang yang terus belajar cenderung lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Ia lebih siap memilah informasi.
Ia lebih tahan terhadap propaganda.
Dalam konteks komunikasi politik, kemampuan memilah informasi menjadi sangat penting.
Apalagi ketika algoritma cenderung menguatkan bias.
-000-
Riset yang Relevan: Informasi, Emosi, dan Polarisasi
Kajian komunikasi menunjukkan bahwa pesan politik tidak bekerja hanya lewat data.
Ia bekerja lewat identitas.
Ia bekerja lewat rasa takut.
Ia bekerja lewat harapan.
Di media sosial, pesan yang memicu emosi sering lebih cepat menyebar.
Konsekuensinya, ruang publik mudah memanas.
Ketika publik membaca kabar Abdel kuliah Komunikasi Politik, sebagian melihatnya sebagai upaya memahami dinamika itu.
Di sini, berita personal bertemu kegelisahan kolektif.
Warga ingin percaya bahwa ada jalan untuk berbicara lebih jernih.
-000-
Referensi Luar Negeri: Ketika Figur Publik Kembali ke Kampus
Fenomena figur publik kembali belajar bukan hanya terjadi di Indonesia.
Di berbagai negara, kabar semacam ini sering menjadi simbol.
Simbol bahwa pendidikan tidak berhenti setelah karier mapan.
Di Amerika Serikat, beberapa tokoh hiburan pernah diberitakan melanjutkan studi atau menyelesaikan gelar di usia dewasa.
Respons publik sering serupa.
Kagum, lalu bertanya tentang motivasi dan dampaknya.
Di Inggris, gagasan pendidikan orang dewasa juga kuat melalui tradisi kursus malam dan program universitas terbuka.
Ia menormalisasi belajar lintas usia.
Perbandingan ini menunjukkan satu hal.
Ketika institusi dan budaya mendukung, belajar di usia matang tidak dianggap aneh.
Ia dianggap wajar.
-000-
Pelajaran yang Bisa Diambil Indonesia
Tren ini seharusnya tidak berhenti sebagai tepuk tangan untuk individu.
Ia bisa menjadi pintu masuk membahas hambatan struktural.
Masih banyak orang dewasa ingin belajar, tetapi terbentur biaya.
Terbentur waktu kerja.
Terbentur akses kampus yang ramah pekerja.
Jika berita ini hanya jadi hiburan, kita kehilangan kesempatan.
Namun jika ia jadi pemantik, kita bisa membicarakan kebijakan.
Misalnya, penguatan program pendidikan fleksibel.
Pengakuan pembelajaran lampau.
Dan dukungan beasiswa untuk pekerja.
-000-
Membaca Tren dengan Kacamata Kontemplatif
Mengapa publik mudah tersentuh oleh kisah belajar di usia 56.
Karena banyak orang menyimpan penyesalan kecil.
Ada yang dulu ingin kuliah, tetapi harus bekerja.
Ada yang berhenti di tengah jalan.
Ada yang merasa terlambat memulai lagi.
Ketika seseorang memulai, ia seperti mewakili mimpi yang tertunda.
Di situlah emosi kolektif bekerja.
Respek menjadi cara publik berkata, “Mungkin aku juga bisa.”
-000-
Rekomendasi: Cara Menanggapi Isu Ini Secara Sehat
Pertama, apresiasi secukupnya, lalu perluas maknanya.
Rayakan kerja keras individu.
Namun jangan berhenti di kultus personal.
Gunakan momentum untuk membicarakan akses pendidikan orang dewasa.
Kedua, dorong percakapan tentang literasi politik.
Komunikasi politik bukan sekadar teknik memenangi kontestasi.
Ia juga alat warga untuk memahami pesan, kepentingan, dan dampaknya.
Diskusi publik sebaiknya bergeser dari gosip ke substansi.
Ketiga, jaga ruang digital dari sinisme.
Berita positif sering ditarik ke dua ekstrem.
Antara pemujaan berlebihan atau kecurigaan tanpa dasar.
Sikap yang lebih sehat adalah bertanya dengan jernih, tanpa menuduh.
Keempat, institusi pendidikan bisa menangkap sinyal ini.
Kampus dapat memperluas program yang ramah pekerja.
Jadwal fleksibel.
Kelas hibrida.
Dan layanan akademik yang memahami kebutuhan mahasiswa dewasa.
-000-
Penutup
Berita tentang Abdel Achrian kuliah S2 di usia 56 tahun menjadi tren karena ia menyentuh saraf zaman.
Ia menegaskan bahwa belajar adalah hak, bukan privilese usia.
Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan warga yang terus bertumbuh.
Di tengah kebisingan, keputusan untuk kembali ke kelas terasa seperti tindakan sunyi yang bermakna.
Dan mungkin, itu yang paling dibutuhkan Indonesia hari ini.
Ketika pengetahuan dipeluk sebagai kebiasaan, percakapan publik punya peluang menjadi lebih waras.
Seperti kata pepatah yang sering dikutip dalam dunia pendidikan, “Tidak ada kata terlambat untuk belajar.”