BANJARNEGARA — Dewan juri Festival Film Pelajar Banjarnegara Movies 2026 mengapresiasi kualitas teknis dan kedalaman narasi karya para peserta. Sebanyak 24 film karya pelajar tingkat SMP/MTs hingga SMA/SMK/MA yang mengangkat isu sosial masyarakat dinyatakan lolos ke tahap penjurian akhir.
Kurator festival sekaligus praktisi film dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Daru Satrioadi Wiguna, menilai para pelajar mampu memaknai tema “Banjarnegara Local Wisdom” secara jujur melalui sudut pandang remaja. Menurutnya, film-film yang ditampilkan tidak hanya menonjolkan kebanggaan lokal, tetapi juga memotret dinamika kehidupan nyata.
“Kearifan lokal diolah sangat beragam. Sebagian karya mengangkat identitas dan kebanggaan seperti pelestarian metode mengajar sains berbahasa ngapak,” ujar Daru.
Selain itu, Daru menyebut sejumlah film juga berani menyoroti persoalan personal, mulai dari perundungan, ketimpangan ekonomi keluarga, hingga konflik batin antara mengejar cita-cita dan harapan orang tua. Ia menambahkan, evaluasi kurasi diberikan sebagai pemacu semangat berkarya.
“Catatan kuratorial ini bukan untuk menghakimi, melainkan merayakan proses belajar. Setiap kekurangan adalah ruang bertumbuh, dan setiap kekuatan adalah bukti bahwa Banjarnegara punya banyak cerita yang layak diceritakan,” imbuhnya.
Sementara itu, dewan juri yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Banjarnegara, Sagiyo, menyampaikan bahwa film-film finalis banyak menampilkan tiga isu utama. Isu tersebut meliputi kemiskinan yang memicu pernikahan usia dini, deforestasi lingkungan di sekitar aliran sungai, serta kritik terhadap bias akademik.
Sagiyo menegaskan proses penilaian dilakukan secara terukur dan menyeluruh. “Penilaian dilakukan secara objektif berdasarkan indikator ketat dari panitia, mencakup aspek sinematografis, tematik, hingga struktur narasi,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa film bukan sekadar ungkapan visual sederhana. “Melainkan karya komprehensif yang melibatkan banyak keterikatan elemen,” ujarnya.