Realisasi investasi di Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mendominasi dengan porsi 53,4%, sedangkan 46,6% sisanya berasal dari modal asing.
PMDN dinilai berkontribusi terhadap perekonomian nasional, antara lain melalui peningkatan kapasitas produksi dan kualitas barang serta jasa, perluasan kesempatan kerja, kenaikan pendapatan nasional, hingga penguatan daya saing industri dalam negeri. PMDN juga berperan dalam mendukung pembangunan dan pengembangan infrastruktur.
Minat investor domestik terhadap suatu proyek atau usaha dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kebijakan pemerintah, ketersediaan infrastruktur, regulasi bisnis, dan kualitas sumber daya manusia. Stabilitas politik dan keamanan, peningkatan daya saing industri, serta dukungan inovasi dan teknologi juga disebut menjadi penentu dalam mendorong investasi dalam negeri.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis laporan perkembangan investasi dalam negeri di tingkat kabupaten/kota sepanjang 2025. Dalam daftar 10 besar penerima PMDN, Kota Administrasi Jakarta Pusat menempati posisi teratas dengan realisasi Rp57,56 triliun. Posisi kedua diisi Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan Rp45,75 triliun.
Di peringkat ketiga, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat realisasi investasi Rp40,41 triliun. Berikutnya, Kabupaten Bekasi berada di urutan keempat dengan Rp32,17 triliun.
Kota Surabaya menempati peringkat kelima dengan realisasi PMDN Rp30,84 triliun, disusul Kota Administrasi Jakarta Utara di urutan keenam dengan Rp27,57 triliun.
Peringkat ketujuh dan kedelapan diisi wilayah Jabodetabek, yakni Kabupaten Tangerang dengan Rp25,65 triliun dan Kabupaten Bogor dengan Rp25,23 triliun.
Kota Balikpapan berada di urutan kesembilan dengan realisasi investasi Rp23,78 triliun. Daftar 10 besar ditutup oleh Kota Administrasi Jakarta Timur dengan realisasi PMDN Rp23,33 triliun.
Sementara itu, pemerintah menyampaikan optimisme terhadap peningkatan PMDN pada 2026. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan peningkatan PMDN pada 2025 lebih besar dibandingkan penanaman modal asing (PMA) dan menilai tren tersebut akan berlanjut.
Dalam konferensi pers di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (15/1/2026), Rosan mengatakan peningkatan PMDN diperkirakan terdorong oleh faktor Danantara. Ia juga menyebut Danantara akan memprioritaskan penanaman modal di sektor kesehatan dan hilirisasi pada 2026 untuk mengakselerasi PMDN. Rosan menegaskan PMDN pada 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) dipastikan meningkat lebih tinggi.

