Yayasan Partisipasi Muda Gelar Academia Politica di Mataram, Angkat Isu Kelautan dan Perubahan Iklim di NTB

Yayasan Partisipasi Muda Gelar Academia Politica di Mataram, Angkat Isu Kelautan dan Perubahan Iklim di NTB

Yayasan Partisipasi Muda (YPM) menggelar kegiatan Academia Politica di Kota Mataram sebagai upaya mendorong generasi muda berpartisipasi lebih signifikan dalam proses demokrasi dan pengambilan kebijakan publik, khususnya yang berwawasan lingkungan.

Kegiatan ini memfokuskan pembahasan pada isu perubahan iklim serta dampaknya terhadap ekosistem laut di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang disebut sebagai bagian dari Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang). Melalui agenda tersebut, YPM berharap dapat melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang sadar iklim dan tidak merusak lingkungan saat menyusun kebijakan.

Academia Politica juga menghadirkan empat pembicara dengan tema diskusi “Wisata Toxic vs Wisata Berkelanjutan: Alam Rusak, Turis Pergi, Anak Muda Rugi?”. Executive Director YPM, Neildeva Despendya P., mengatakan kegiatan ini merupakan lokakarya yang dirancang untuk membekali peserta dalam pembuatan kebijakan publik yang berpihak pada isu perubahan iklim.

“Kita berharap dari akademi politik kita melahirkan pembuat kebijakan yang lebih melek perubahan iklim, jadi nanti ketika mereka bisa jadi leader di daerah atau bisa nyalon jadi presiden. Kebijakan yang mereka buat itu tidak akan merusak lingkungan,” ujarnya, Sabtu (18/10).

Neildeva menjelaskan, NTB dipilih sebagai lokasi karena provinsi ini bersama Ambon dinilai menjadi bagian penting dari Coral Triangle. Karena itu, kesadaran menjaga terumbu karang dan hutan mangrove disebut krusial.

“Laut itu sangat penting untuk melindungi kita dari efek perubahan iklim. Kita ingin kasih awareness ke anak muda NTB penting sekali untuk menjaga terumbu karang, menjaga hutan-hutan mangrove karena semua itu banyak manfaatnya,” katanya.

YPM menargetkan kegiatan ini dapat memicu munculnya pemimpin lokal baru dari kalangan muda yang mampu menanggulangi isu lingkungan. Para peserta juga didorong memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, baik melalui jalur legislatif, organisasi kemahasiswaan, maupun lewat komunitas dan organisasi nonpemerintah.

“Harus di-awareness dulu biar mereka tahu masalah perubahan iklim di NTB cukup besar, terutama di bidang pariwisata. Apalagi sekarang banyak pembangunan yang berhubungan dengan pariwisata tapi ujungnya toxic, terumbu karang rusak, mangrove ditebangin,” ungkap Neildeva.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi NTB. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Chandra Aprinova, menyatakan pihaknya mendukung inisiatif YPM dalam melatih kepekaan dan kesadaran anak muda, termasuk pemahaman mekanisme pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan pariwisata berkelanjutan.

“Dan kemampuan anak-anak muda khususnya mahasiswa terkait dengan mekanisme pengambilan keputusan, dalam hal ini dikaitkan dengan bagaimana pengambilan keputusan terkait dengan pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.

Chandra juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga daya tarik alam NTB yang menjadi magnet wisatawan. Ia mendorong anak muda menjaga alam dan budaya, sekaligus mengembangkan usaha ekonomi kreatif dengan tetap memperhatikan kebersihan.

“Justru kita sebagai generasi muda ini harus mampu mengurangi, bahkan mengajak sesama pemuda menjaga lingkungan dengan cara paling sederhana adalah saling mengajak buang sampah pada tempatnya,” tegasnya.

Sementara itu, Principle Marine Conservation Scientist SORCE (Sustainable Oceanic Research, Conservation, and Education), Raja Aditya Sahala, yang menjadi pemateri, berharap peserta semakin memahami dampak perubahan iklim terhadap terumbu karang dan sektor pariwisata.

“Harapan saya di dalam acara ini, semoga pemuda-pemudi yang hadir di acara ini mereka sadar terhadap pentingnya terumbu karang, mangrove dan ekosistem lainnya dan mereka bisa sharing apa yang saya sampaikan mungkin ke teman-teman, keluarga, atau rekan-rekan di lingkungan rumah sendiri,” katanya.

Pegiat Ekologi Suku Sasak, Lalu Kesumajayadi, turut memuji pelaksanaan Academia Politica yang melibatkan sejumlah anak muda di NTB. Ia menilai partisipasi pemuda dari berbagai daerah menunjukkan antusiasme yang besar terhadap isu lingkungan yang dibahas.