Warga Terdampak Banjir di Nanga Wera Blokade Jalan Lintas Wera–Bima, Tuntut Kepastian Perbaikan

Warga Terdampak Banjir di Nanga Wera Blokade Jalan Lintas Wera–Bima, Tuntut Kepastian Perbaikan

Bima — Ratusan warga terdampak banjir bandang di Desa Nanga Wera, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, memblokade jalan lintas Wera–Bima pada Senin pagi, 8 September 2025. Aksi tersebut membuat arus lalu lintas di jalur utama itu macet total.

Kepala Desa Nanga Wera, Umar, membenarkan adanya penutupan jalan oleh warganya. Ia menyebut aksi itu sebagai puncak kekecewaan masyarakat karena janji perbaikan pascabanjir bandang yang terjadi pada Februari 2025 belum terealisasi.

Menurut Umar, warga menyampaikan dua tuntutan utama. Pertama, perbaikan rumah-rumah yang rusak maupun hilang akibat banjir bandang. Kedua, pemulihan infrastruktur pertanian yang disebut mengalami kerusakan menyeluruh, sementara sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

“Benar, lagi ada pemblokadean jalan. Aksi ini masyarakat yang terdampak banjir memutup jalan. Tuntutannya yang pertama, janji pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk perbaiki rumah yang hilang dan rusak. Yang kedua, perbaikan infrastruktur pertanian yang semuanya rusak karena banjir. Tidak ada satu pun upaya atau perhatian pemerintah kabupaten maupun provinsi atas persoalan ini,” kata Umar saat dihubungi, Senin, 8 September 2025.

Umar mengatakan warga menyatakan tidak akan membuka jalan sebelum ada kepastian dari pemerintah. Penutupan, kata dia, dilakukan hingga ada pihak Pemerintah Kabupaten Bima atau Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang datang menemui masyarakat dan memberikan kejelasan.

“Aksi penutupan jalan ini akan dilakukan sampai waktu tak tentukan. Masyarakat yang terdampak banjir akan berhenti menutup jalan jika ada pihak pemerintah daerah Kabupaten Bima maupun Pemprov NTB menemui masyarakat. Jalan akan ditutup sampai kapan, kalau sebulan ya sebulan, sampai ada pihak pemerintah yang memberikan kejelasan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa selama sembilan bulan terakhir dirinya berupaya memperjuangkan aspirasi warga dengan berkoordinasi berulang kali dengan pemerintah daerah. Namun, Umar menyebut belum ada hasil yang dirasakan masyarakat, termasuk terkait usulan anggaran.

“Saya selaku kepala desa sudah berkoordinasi lebih dari puluhan kali. Selama sembilan bulan ini, hampir tiap bulan saya datangi kantor-kantor pemerintah untuk menyampaikan hal ini. Namun usulan APBD kabupaten maupun provinsi tidak ada dimasukkan. Jadi wajar masyarakat tidak puas dan memblokadi jalan,” katanya.

Jalan lintas Wera–Bima merupakan akses utama masyarakat wilayah timur Kabupaten Bima menuju kota. Dengan adanya penutupan, arus kendaraan dari dan ke Wera dilaporkan lumpuh.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi terkait tuntutan warga Desa Nanga Wera. Warga masih bertahan menutup jalan sambil menunggu kehadiran pejabat yang dapat memberikan kepastian atas janji perbaikan pascabanjir.