Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menilai keterlibatan perguruan tinggi diperlukan untuk membantu pemerintah kota merespons persoalan sosial dan lingkungan di Solo. Ia menyebut perspektif kampus dapat memperkuat pendekatan ekonomi kreatif serta mendorong inovasi yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila.
“Kami butuh perspektif dari kampus, dari para dosen, dan para peneliti dalam rangka menjawab permasalahan-permasalahan sosial serta lingkungan yang ada di sekitar kita,” kata Astrid saat menghadiri sidang senat terbuka dalam rangka Milad ke-43 Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta di Kampus UNIBA, Surakarta, Jawa Tengah, Senin.
Astrid menekankan inovasi tidak semestinya berhenti pada penciptaan produk. Menurutnya, inovasi juga harus mampu menghadirkan solusi konkret atas tantangan yang dihadapi masyarakat.
Ia memaparkan sejumlah persoalan sosial di Surakarta yang dinilai terus bergerak dinamis. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penanganan stunting yang kini tidak lagi semata terkait kesehatan dan pemenuhan gizi, tetapi turut bergeser ke isu lingkungan, seperti penataan infrastruktur air bersih di kawasan bantaran sungai.
Selain itu, Astrid menyoroti peran perguruan tinggi dalam memperkuat moralitas generasi muda, terutama Gen Z dan generasi Alpha yang tumbuh di tengah percepatan transformasi digital. Ia menyampaikan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai gotong royong, keadilan sosial, dan kemanusiaan sebagaimana termaktub dalam Pancasila.
Terkait kebijakan ekonomi daerah, Astrid menjelaskan Pemerintah Kota Surakarta menempatkan ekonomi kreatif sebagai sektor strategis masa depan sejalan dengan program prioritas Asta Cita Surakarta. Berdasarkan data pemerintah daerah, pertumbuhan jumlah UMKM di Solo disebut sangat masif, mencapai sekitar 2.000–3.000 pelaku usaha baru setiap tahun.
Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi mencetak wirausaha baru, melainkan menjaga keberlanjutan ekosistem usaha yang sudah berjalan agar tidak mudah gulung tikar.
Karena itu, Pemkot Surakarta mendorong kalangan akademisi untuk menggandeng kementerian terkait guna memperkuat legalitas dan komersialisasi produk lokal. “Kami mengajak kampus untuk berkolaborasi dengan Kementerian Hukum terkait perlindungan hak cipta, merek, dan legalitas hukum. Setelah itu, kolaborasi dilanjutkan dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk fokus pada pengembangan ekosistem melalui promosi, publikasi, dan komersialisasi yang aman,” tuturnya.
Melalui peringatan Milad ke-43 UNIBA, Pemkot Surakarta berharap kampus tersebut terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan kewirausahaan dan inkubator inovasi. Astrid juga menyampaikan harapan agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya siap memasuki Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), tetapi juga berani menciptakan peluang usaha baru berbasis penguasaan teknologi digital serta kepedulian sosial.