Video Tentara AS Menangis Minta Dipulangkan Disebut Hasil Rekayasa AI, Bukan Rekaman dari Timur Tengah

Video Tentara AS Menangis Minta Dipulangkan Disebut Hasil Rekayasa AI, Bukan Rekaman dari Timur Tengah

Sebuah video yang beredar di media sosial menampilkan tiga pria berseragam militer yang terlihat menangis dan disebut meminta segera dipulangkan setelah adanya serangan balasan dari Iran. Unggahan itu disertai narasi bahwa pasukan Amerika Serikat mengalami tekanan mental dan ketakutan akibat serangan rudal Iran yang diklaim semakin gencar dan tidak terkendali.

Namun, hasil pemeriksaan fakta menyimpulkan video tersebut bukan rekaman asli. Verifikasi dilakukan melalui pengamatan visual manual, penggunaan perangkat deteksi akal imitasi, serta perbandingan dengan informasi dari sumber-sumber kredibel. Dari pemeriksaan itu, tiga klip dalam video dinilai dibuat menggunakan teknologi akal imitasi (AI).

Pada klip pertama, ditemukan sejumlah kejanggalan visual, antara lain kendaraan baja di belakang sosok berseragam yang tampak memiliki pintu menyatu dengan roda di bagian depan. Selain itu, tanda nama pada seragam tidak dapat dikenali. Pola seperti ini disebut lazim muncul pada konten yang dihasilkan AI.

Klip kedua juga memunculkan ketidaksesuaian, terutama pada bentuk lencana di baret. Lencana tersebut berbeda dari versi yang digunakan tentara Amerika Serikat sebelum 2011, sementara Angkatan Darat AS disebut tidak lagi menggunakan baret jenis itu sejak tahun yang sama. Kejanggalan lain tampak pada adegan pengusung peti jenazah yang hanya berjumlah lima orang—jumlah yang dinilai tidak lazim—serta visual yang tampak buram, yang disebut sering muncul sebagai kesalahan teknis pada produk akal imitasi.

Adapun pada klip ketiga, ketidakkonsistenan terlihat pada pencahayaan di dahi salah satu sosok berseragam. Selain itu, ada adegan seorang tentara menempelkan tubuh bagian depan ke dinding dan dua kerucut lalu lintas (traffic cone) yang tampak memiliki ukuran berbeda.

Dua organisasi pemeriksa fakta, Misbar dan Teyit, turut menyatakan bahwa tiga klip tersebut bukan rekaman autentik, melainkan buatan mesin AI.

Di tengah beredarnya klaim tersebut, situasi konflik tetap menjadi sorotan. Amerika Serikat mencatat 13 tentara tewas dan sekitar 200 personel luka-luka hingga 17 Maret 2026. Angka itu merupakan akumulasi korban sejak Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.

Center on Conscience & War melaporkan adanya lonjakan panggilan telepon dari prajurit yang menolak dikirim ke Iran. Organisasi nirlaba yang mendampingi para penolak wajib militer di Amerika itu menyebut banyak prajurit menyatakan keberatan atas penugasan tersebut.

Sementara itu, CBC memberitakan Presiden Donald Trump mengirim 2.500 marinir untuk membuka blokade Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional yang ditutup Iran sebagai bagian dari strategi perang. Trump juga melobi negara-negara sekutu serta Cina untuk mengerahkan kekuatan militer guna membuka kembali jalur kapal di kawasan tersebut. Menanggapi ajakan itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan hanya akan fokus mengamankan warga negaranya di kawasan konflik dan enggan terlibat dalam peperangan.

Dengan demikian, narasi yang menyebut video tersebut memperlihatkan tentara Amerika Serikat di Timur Tengah menangis dan meminta dipulangkan dinyatakan keliru karena materi videonya merupakan hasil rekayasa AI.