Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperkuat strategi branding berbasis dampak dan relevansi sosial sebagai bagian dari upaya meningkatkan reputasi institusional. Penguatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu generasi muda terhadap ekosistem pendidikan di perguruan tinggi.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Universitas UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA, dalam kegiatan Orientasi Pejabat Struktural UMY pada Senin (28/7). Bachtiar menegaskan bahwa branding tidak hanya berkaitan dengan tampilan luar, melainkan komitmen internal seluruh civitas academica untuk menampilkan UMY sebagai perguruan tinggi yang unggul, Islami, dan berjiwa kewirausahaan.
Menurutnya, UMY perlu tampil dengan wajah yang lebih segar, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islami dan kemuhammadiyahan. Ia juga menekankan reputasi perguruan tinggi harus ditopang oleh konsistensi kualitas, mutu pelayanan, serta kehadiran aktif di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Bachtiar menjelaskan strategi branding UMY dibagi menjadi tiga elemen utama, yakni media ruang, media digital, dan branding dari civitas academica. Pada aspek media ruang, UMY berencana memperluas eksistensi di ruang publik seperti stasiun, bandara, hingga ruang kota melalui publikasi luar ruang. Di sisi lain, desain ruang kampus terus direvitalisasi dengan konsep yang lebih instagramable, termasuk penataan ulang ruang rektorat serta gedung-gedung pelayanan agar memberi kesan nyaman, profesional, dan representatif.
Bachtiar juga menyoroti peran dosen dan pimpinan sebagai bagian penting dalam strategi komunikasi publik. Keahlian dosen akan dipetakan dan diberdayakan untuk merespons isu-isu sosial melalui opini, diskusi, maupun keterlibatan di media massa nasional. Untuk mendukung langkah tersebut, UMY mulai menyusun branding personal civitas academica melalui profiling kepakaran sesuai bidang masing-masing.
Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi perlu hadir dalam wacana publik. Karena itu, UMY akan mendorong dosen dan pimpinan untuk tampil sebagai pakar yang memberikan jawaban atas isu-isu yang dibutuhkan masyarakat, termasuk lewat kehadiran di media massa nasional, baik konvensional maupun digital.
Transformasi branding digital turut dilakukan melalui optimalisasi infrastruktur digital, seperti situs web resmi dan aktivasi platform media sosial. Website UMY kini memuat rubrik berita yang lebih luas dengan fokus pada narasi unggul, Islami, dan entrepreneurial university. Sementara itu, media sosial seperti Instagram dan TikTok dimanfaatkan sebagai kanal interaksi yang lebih dekat dengan generasi Z dan Alpha.
Bachtiar menilai tantangan perguruan tinggi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat perlu dijawab dengan strategi branding yang cerdas, adaptif, dan menyentuh masyarakat secara langsung. Ia pun mengajak seluruh pejabat struktural UMY untuk berkolaborasi aktif dalam penguatan strategi tersebut.

