Tim Komunikasi Komunitas di Vietnam Dorong Kesetaraan Gender dan Tangani Isu Sosial di Pedesaan

Tim Komunikasi Komunitas di Vietnam Dorong Kesetaraan Gender dan Tangani Isu Sosial di Pedesaan

Inisiatif “Tim Komunikasi Komunitas” di Vietnam dinilai memberikan dampak nyata dalam mendorong kesetaraan gender sekaligus menangani sejumlah persoalan sosial yang memengaruhi perempuan dan anak-anak, terutama di wilayah pedesaan. Model ini merupakan bagian dari Proyek 8 yang menitikberatkan pada perubahan pola pikir dan praktik yang dianggap ketinggalan zaman melalui komunikasi terarah dan keterlibatan aktif warga.

Tim tersebut dibentuk dari tokoh-tokoh terkemuka dan pemimpin komunitas, dengan komposisi anggota yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Mereka bertugas mengidentifikasi stereotip dan bias gender di lingkungan keluarga maupun masyarakat, termasuk praktik budaya yang merugikan, serta berbagai masalah sosial yang dihadapi perempuan dan anak. Upaya yang dilakukan meliputi penyebaran informasi, advokasi perubahan, dan penanganan isu-isu yang dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pada 2022, Desa Gioi di Komune Van Am, Distrik Ngoc Lac (kini Komune Nguyet An), Provinsi Thanh Hoa, ditetapkan Persatuan Perempuan Provinsi sebagai lokasi percontohan. Desa tersebut termasuk dalam tujuh desa yang tergolong sangat kurang beruntung dan menghadapi tantangan dalam pengembangan perempuan dan anak-anak. Sejak dibentuk, tim di Desa Gioi menjalankan komunikasi berkelanjutan hingga ke tingkat rumah tangga.

Melalui kegiatan tersebut, pesan mengenai kesetaraan gender, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, perawatan kesehatan reproduksi, serta perlindungan anak disebarluaskan secara luas. Dampak yang dicatat antara lain mulai terkikisnya stereotip gender secara bertahap. Sejumlah perempuan di desa itu disebut berhasil menduduki posisi penting dalam sistem politik dan mengembangkan model mata pencarian, seperti beternak ayam di bawah kanopi hutan atau menanam pare serta labu untuk diambil bijinya. Kegiatan ekonomi tersebut dilaporkan menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 100 anggota, sehingga mereka tetap dapat merawat keluarga tanpa harus bekerja jauh dari rumah.

Di Komune Dien Quang, yang memiliki 10 desa sangat kurang beruntung dan juga berpartisipasi dalam Proyek 8, setiap desa membentuk Tim Komunikasi Komunitas. Serikat Perempuan tingkat atas memberikan dukungan berupa pengeras suara portabel dan kaus untuk menunjang kegiatan komunikasi. Pada periode 2021–2025, Serikat Perempuan komune memimpin dan mengoordinasikan 85 sesi komunikasi komunitas yang menjangkau lebih dari 4.500 anggota perempuan dan warga.

Materi komunikasi secara khusus menyoroti kesetaraan gender, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan anak, pernikahan sedarah, serta kampanye menghapus adat dan praktik kuno dalam pernikahan dan pemakaman. Melalui komunikasi yang intensif, masyarakat dilaporkan perlahan berubah: dari semula enggan mendengarkan dan cenderung menghindari persoalan, menjadi lebih aktif bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan menyesuaikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, di Provinsi Thanh Hoa telah terbentuk 318 Tim Komunikasi Komunitas, melampaui target yang ditetapkan. Sebanyak 264 tim menerima dukungan peralatan awal, sementara hampir 1.700 kegiatan komunikasi masyarakat telah diselenggarakan, disiarkan di media massa lokal, dan disebarluaskan melalui media sosial. Selain itu, hampir 350 pelatihan digelar bagi tetua desa, pemimpin masyarakat, dan tokoh berpengaruh, mencakup keterampilan manajemen, operasional model, pengetahuan kesetaraan gender, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta pencegahan pernikahan anak dan pernikahan sedarah. Kelompok Zalo juga dimanfaatkan untuk pertukaran kerja dari tingkat provinsi hingga desa.

Wakil Ketua Serikat Wanita Provinsi, Bui Thi Mai Hoan, menekankan pentingnya pendekatan inklusif dalam program tersebut. “Tim komunikasi masyarakat menargetkan masyarakat sebagai audiens komunikasi, tanpa memandang jenis kelamin. Hal ini menarik partisipasi masyarakat, dan setiap orang bertanggung jawab untuk mempromosikan peningkatan kualitas hidup, menghilangkan kebiasaan lama, dan bergerak menuju nilai-nilai yang lebih baik,” ujarnya.

Program ini dinilai memperluas peran masyarakat lokal sebagai agen perubahan. Selain menyoroti isu seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan anak, pendekatan berbasis komunitas tersebut juga diarahkan untuk mengubah norma sosial yang dinilai menghambat kemajuan perempuan dan anak-anak.