Teror Pocong Keliling Merebak, Sosiolog Soroti Modus Kriminal hingga Dampak Kepanikan Digital

Teror Pocong Keliling Merebak, Sosiolog Soroti Modus Kriminal hingga Dampak Kepanikan Digital

Fenomena teror pocong keliling belakangan membuat warga resah di sejumlah daerah, terutama di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang. Dalam sejumlah cerita yang beredar, warga mengaku mendengar ketukan keras di pagar atau pintu rumah pada malam hari, lalu melihat sosok menyerupai pocong berdiri di depan rumah. Di beberapa lokasi lain, sosok serupa juga dilaporkan muncul di jalanan kampung yang sepi.

Pada awalnya, sebagian warga mengira penampakan itu benar adanya sehingga memicu kepanikan dan kekhawatiran. Namun, kemudian muncul desas-desus bahwa sejumlah kasus teror tersebut dilakukan manusia dengan beragam motif, mulai dari keisengan, upaya mencari perhatian di media sosial, hingga dugaan modus tindak kriminal.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), M. Febriyanto Firman Wijaya, menilai kemunculan teror pocong keliling tidak bisa dipandang semata sebagai candaan. Ia menduga aksi tersebut dapat dipakai sebagai cara menebar ketakutan yang berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan, seperti pencurian, ketika warga panik dan kewaspadaan menurun.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa ada pihak yang sadar betul bahwa ketakutan kolektif bisa menjadi alat yang sangat efektif. Satu video pocong di malam hari bahkan bisa melumpuhkan kewaspadaan masyarakat lebih cepat dibanding ancaman biasa,” ujar Febriyanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, ada proses “instrumentalisasi ketakutan” yang sengaja diproduksi dan disebarluaskan untuk menciptakan keresahan sosial. “Ini bukan lagi sekadar iseng. Ketakutan masyarakat sedang dijadikan komoditas. Tanpa sadar, masyarakat menjadi pasar dari rasa takut yang terus diproduksi,” katanya.

Febriyanto juga menyoroti peran media sosial dalam mempercepat penyebaran kepanikan. Ia menyebut fenomena ini bermula dari sebuah video penampakan pocong yang menyebar di media sosial disertai narasi menakut-nakuti. Terlepas dari apakah video itu penampakan nyata atau rekayasa, konten tersebut dinilai memancing ketakutan massal sekaligus memberi inspirasi bagi oknum lain untuk melakukan hal serupa.

Dari sudut pandang sosiologi, ia memandang teror pocong keliling sebagai gambaran rapuhnya ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi arus informasi digital. Di tengah banjir konten, masyarakat dinilai mudah terpengaruh narasi mistis tanpa verifikasi yang memadai.

“Persoalannya bukan lagi soal pocong itu ada atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu bersikap rasional dan tidak mudah terseret kepanikan massal yang sengaja diproduksi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pendidikan berpikir kritis dan literasi digital, termasuk di lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Pesantren, madrasah, majelis taklim, hingga perguruan tinggi dinilai perlu mengajarkan kemampuan menyaring informasi, termasuk konten yang dibungkus nuansa mistis maupun keagamaan.

Menurut Febriyanto, langkah tersebut bukan untuk menghapus tradisi atau kepercayaan lokal, melainkan untuk mencegah manipulasi ketakutan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. “Kepercayaan masyarakat jangan sampai dijadikan bahan bakar untuk menciptakan kepanikan sosial. Di sinilah pentingnya pendidikan kritis dan literasi digital,” katanya.