Kurang dari sepekan menjelang pemungutan suara, sejumlah survei menempatkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di posisi teratas. Meski demikian, pengamat mengingatkan publik agar tidak memaknai angka elektabilitas sebagai kepastian mutlak, mengingat adanya margin of error dan peluang perubahan pilihan pemilih menjelang atau pada hari pemilu.
Survei terbaru Populi Center mencatat elektabilitas Prabowo-Gibran sebesar 52,5%. Angka ini memicu perbincangan karena melampaui ambang yang kerap dikaitkan dengan peluang pemilu satu putaran. Berdasarkan Pasal 416 Ayat 1 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, salah satu syarat pemilu satu putaran adalah pasangan calon memperoleh suara lebih dari 50% dari total suara.
Dalam survei Populi Center itu, elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar tercatat 22,1%, sementara Ganjar Pranowo-Mahfud MD 16,9%. Survei dilakukan pada 27 Januari hingga 3 Februari dengan 1.500 responden dari 38 provinsi yang dipilih melalui metode acak bertingkat (multistage random sampling).
Hasil Populi Center berbeda dengan beberapa survei lain yang dirilis pada Januari. Charta Politika, dalam survei periode 4-11 Januari 2024 dengan 1.220 responden, mencatat elektabilitas Prabowo-Gibran 42,2%, Anies-Muhaimin 26,7%, dan Ganjar-Mahfud 28%. Sementara Indikator Politik, dalam survei periode 10-16 Januari 2024 dengan 1.200 responden dan metode multistage random sampling, mencatat Prabowo-Gibran 48,55%, Anies-Muhaimin 24,17%, dan Ganjar-Mahfud 21,6%.
Perbedaan hasil tersebut ikut memunculkan tudingan bahwa Populi Center mendukung pasangan nomor urut 02, karena menjadi satu-satunya yang menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran melewati 51%. Direktur Eksekutif Populi Center, Afrimadona, membantah adanya intervensi politik dalam survei yang mereka keluarkan. Ia menyebut Populi Center hanya melakukan survei dan tidak memberikan konsultasi politik.
Afrimadona juga menyatakan peluang Pilpres 2024 berakhir dalam satu putaran dinilai semakin besar. Ia merujuk pada temuan survei yang menunjukkan 79,9% responden menginginkan pemilu satu putaran. Namun, ia menekankan peluang dua putaran tetap ada, antara lain karena pemilih mengambang (swing voters) masih berada di kisaran 19,4% berdasarkan survei terakhir. Menurutnya, jika pemilih mengambang mengarah ke selain pasangan 02, peta dukungan masih bisa berubah.
Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia sekaligus Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), Hamdi Muluk, menilai angka 52,5% mungkin saja terjadi, tetapi tidak bisa dianggap sebagai kepastian. Ia menekankan setiap survei memiliki margin of error yang membuat hasil berada dalam rentang tertentu, umumnya plus-minus 3%.
Dengan margin of error tersebut, angka yang dilaporkan bisa saja lebih rendah atau lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Hamdi menjelaskan, temuan lembaga lain yang memotret elektabilitas di kisaran 46% atau 47% bisa mendekati 50% jika memperhitungkan margin of error, tetapi juga bisa lebih rendah. Ia menyebut perbedaan antar-survei dapat terjadi karena waktu pelaksanaan survei yang berbeda, serta perbedaan metodologi—misalnya survei tatap muka dibandingkan survei lewat telepon.
Hamdi juga mengatakan, jika ada hasil survei yang dinilai menyimpang jauh dari kisaran margin of error, Dewan Etik Persepi dapat memanggil lembaga terkait dan mengaudit prosedurnya. Ia mencontohkan pada Juli 2014, Dewan Etik Persepi pernah mengeluarkan dua lembaga survei—Jaringan Suara Indonesia (JSI) dan Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis)—dari keanggotaan Persepi sebagai bagian dari pengumuman hasil audit terhadap delapan lembaga anggota.
Dari sisi Populi Center, Afrimadona menyebut margin of error survei terbaru mereka diperkirakan ±2,53%. Namun ia juga menyampaikan catatan bahwa margin of error yang dilaporkan bisa lebih kecil daripada yang sebenarnya, karena perhitungan sering mengasumsikan simple random sample, sementara survei dilakukan dengan multistage random sampling. Ia menambahkan, angka 52,5% adalah nilai tengah dan elektabilitas Prabowo-Gibran dapat berada pada kisaran 48% hingga 56%.
Terkait cara menyikapi survei, Hamdi menilai sebagian masyarakat kerap menolak atau bahkan menyerang hasil survei yang tidak sesuai ekspektasi. Ia tidak menampik adanya oknum yang memalsukan survei untuk mengelabui pemilih, termasuk dengan menggunakan nama lembaga yang mirip dengan lembaga survei resmi. Salah satu tanda yang disebutnya adalah hasil yang “beda total” dibandingkan mayoritas lembaga lain.
Karena itu, Hamdi menyarankan publik memeriksa rekam jejak lembaga survei sebelum mempercayai hasilnya dan menilai kredibilitasnya secara mandiri. Ia menambahkan, hasil pelacakan dari lembaga survei yang dinilai terpercaya umumnya jarang meleset jauh, meskipun tetap harus dibaca sebagai estimasi, bukan kepastian.

