Seorang anak kelas 4 sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR, ditemukan meninggal dunia setelah bunuh diri. Peristiwa itu terjadi setelah malam sebelumnya YBR sempat meminta ibunya membelikan pena dan buku tulis, namun permintaan tersebut ditolak karena sang ibu tidak memiliki uang.
Barang seperti pena dan buku tulis mungkin terlihat sederhana dan murah bagi sebagian orang. Namun, bagi keluarga YBR yang hidup dalam kondisi miskin ekstrem, kebutuhan sekolah dengan harga yang disebut tidak sampai Rp10.000 dapat menjadi beban. Ibu YBR merupakan orangtua tunggal yang bekerja serabutan dan menanggung hidup lima anak.
Kasus ini memunculkan pertanyaan lebih luas tentang tanggung jawab bersama dalam melindungi masa depan anak, terutama ketika kebutuhan dasar pendidikan tidak dapat dipenuhi. YBR baru berusia 10 tahun—usia ketika anak seharusnya dapat belajar, bermain, dan membangun cita-cita tanpa dihimpit persoalan ekonomi yang berat.
Peristiwa tersebut juga menegaskan bahwa tindakan bunuh diri pada anak tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan individu. Kasus YBR dipahami sebagian pihak sebagai cerminan persoalan yang lebih dalam, yakni kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial yang dapat menekan kehidupan keluarga dan anak-anak.
Dikutip dari Liputan6.com, pakar dan dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Dicky Pelupessy menjelaskan bahwa pengaruh kemiskinan terhadap kesehatan mental tidak bersifat langsung atau linear. Namun, kemiskinan dapat berperan sebagai faktor risiko atau tekanan yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan kesehatan mental, termasuk yang dapat memicu tindakan bunuh diri.
Dicky juga mencontohkan situasi ketika orangtua dengan kondisi sosial ekonomi rendah harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga memiliki keterbatasan waktu dan energi untuk mendampingi anak. Dalam kondisi tertentu, beban ekonomi bahkan dapat turut ditanggung anak-anak.
Dalam kasus YBR, ibunya bekerja di sektor informal tanpa penghasilan tetap dan tanpa jaring pengaman sosial yang memadai. Padahal, buku tulis dan pena merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak sekolah. Ketika kebutuhan pendidikan paling mendasar pun sulit dipenuhi, situasi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan ekonomi keluarga dan biaya kebutuhan untuk menjalani hidup yang layak.

