Judi online di Indonesia disebut telah berkembang menjadi bisnis ilegal berskala besar, dengan perputaran uang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Di tengah upaya terus meraup keuntungan, pelaku judi online memanfaatkan berbagai cara untuk menjaring pemain baru, salah satunya melalui iklan di media sosial.
Teknologi artificial intelligence (AI) yang kian canggih dan mudah diakses turut dipakai dalam strategi pemasaran tersebut. AI digunakan untuk membuat foto profil akun media sosial, serta melakukan impersonisasi video dan suara figur publik agar seolah-olah mereka mengiklankan situs judi.
Dalam kurun sekitar sebulan, Tim Cek Fakta Kompas.com memantau 115 akun Facebook yang mengiklankan 66 situs judi berbeda. Iklan-iklan itu disebut dibuat dengan bantuan AI.
Selain video deepfake figur publik, promosi judi online juga melibatkan akun-akun inautentik yang menggunakan foto profil perempuan. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus pakar marketing, Catur Sugiarto, menyatakan penggunaan foto profil perempuan kerap dipakai untuk menarik minat konsumen.
“Kecantikan itu bisa menjadi daya tarik yang efektif ya. Untuk bisa meng-attract, menarik minat konsumen untuk membeli, untuk menyukai iklan, dan seterusnya,” kata Catur saat ditemui di Kampus UNS pada 12 Februari 2026.
Menurut Catur, strategi tersebut umumnya digunakan ketika pasar yang dibidik adalah laki-laki. Ia menjelaskan, dalam teori Elaboration Likelihood Model (ELM), penggunaan profil perempuan menjadi cara memengaruhi audiens melalui jalur periferal, yakni lewat sisi samping produk, bukan jalur sentral.
“Akhirnya mereka tertarik, minimal mengeklik profilnya si pemilik (iklan) ini kan,” ujarnya. Akademisi lulusan S3 Aix-Marseille University itu juga menambahkan bahwa ketertarikan awal dapat muncul dari rasa penasaran terhadap sosok di balik akun. “Orang melihat, ‘oh ini kok cakep, siapa ya?’. Dari situ dulu, masuk, setelah itu mereka mencoba mempertahankan loyalitas dengan cara lain,” kata Catur.

