PENYAIR SEBAGAI PEMIMPIN SPIRITUAL  SEBUAH  BANGSA

PENYAIR SEBAGAI PEMIMPIN SPIRITUAL SEBUAH BANGSA

(Sambutan yang disampaikan di acara Hadiah Sastra untuk Sutardji Calzoum Bachry, di TIM, 24 Juni 2023)

Denny JA

Merenungkan Sutardji Calzoum Bachry, saya teringat kutipan dari Johann Wolfgang von Goethe, penyair besar dan negarawan Jerman, 1749-1832.

Menurut Goethe, โ€œPenyair itu pemimpin spiritual sebuah bangsa. Ia menjadi cermin batin terdalam komunitasnya.

Tahun 1981, empat puluh dua tahun yang lalu, itu tahun pertama saya menjadi mahasiswa. Saat itulah saya berkenalan dengan puisi Sutardji Calzoum Bachry.

Saya masih ingat momen itu. Di beranda mesjid Salemba UI, saya mengulang- ulang membaca puisi Sutardji berjudul KUCING. Puisi itu ditulisnya di tahun 1973.

Sebagian bait itu saya hafal luar kepala.

โ€œBerapa Tuhan yang kalian punya?๏ฟฝ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.โ€

โ€œ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ง๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข,๏ฟฝ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ป๐˜ฐ๐˜ฏ,๏ฟฝ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜™๐˜ช๐˜ข๐˜ถ,๏ฟฝ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข-๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข,๏ฟฝ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข.๏ฟฝ๐˜“๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ,๏ฟฝ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๏ฟฝ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ,๏ฟฝ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต untuk aku.

Saya juga teringat puisinya, berjudul Walau. Ini ia tulis di tahun 1979.

โ€œDulu pernah kuminta Tuhan dalam diri.๏ฟฝSekarang tak.โ€

โ€œKalau mati๏ฟฝmungkin matiku bagai batu tamat, bagai pasir tamat.โ€

โ€œJiwa membumbung dalam baris sajak.
Tujuh puncak membilang bilang.โ€
๏ฟฝโ€œNyeri hari mengucap ucap,๏ฟฝdi butir pasir kutulis rindu rindu.โ€

โ€œWalau huruf habislah sudah,๏ฟฝalifbataku belum sebatas Allah.โ€

-000-

Di tahun itu, saya menjadi ketua mahasiswa angkatan 81 Universitas Indonesia untuk Fakultas Teknik. Intensitas kegiatan agama di kalangan mahasiswa sangat tinggi. Ini terutama akibat Revolusi Islam di Iran yang dibawa Khomeini tahun 1979.

Slogan dan pernyataan soal prinsip agama Islam agar semakin hadir di ruang publik sangat sering diwacanakan.

Saya pribadi, yang saat itu banyak membaca filsafat dan sastra, agak kurang nyaman dengan pemahaman agama yang formalistik dan literal.

Puisi Sutardji saat itu mengisi kebutuhan batin saya. Kerinduan akan sentuhan Tuhan yang mendalam terasa dalam puisi Sutardji. Tapi ia mengekspresikan kerinduan religius itu dengan pola yang tak biasa.

Berdasarkan data riset, mereka yang menganggap agama penting dan sangat penting dalam hidupnya di Indonesia sangatlah banyak, di atas 90 persen.

Agama menggores batin kita sangat dalam. Sutardji sebagai penyair mengekspresikan batin dirinya, juga batin Indonesia.

Tapi sebagai sastrawan, sebagai penyair, ia mengekspresikan batin agama itu berbeda dibandingkan yang disampaikan oleh para kiai, dai dan ustad di mesjid. Berbeda pula dengan cara seorang akademisi dan intelektual dalam menyatakannya.

Bahasa puisi membuat Sutardji dapat mengekspresikannya secara lebih urakan, tak biasa, out of the box.

Namun justru ekspresi tak biasa itu membuat renungan religiusnya memiliki tempat sendiri yang berbeda dalam memori kita.

Selamat untuk Sutardji Calzoum Bachry yang mendapatkan Anugrah Sastra 2023, sekaligus perayaan Ulang Tahunnya yang ke-82.

Saya Denny JA, selaku Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena menempatkan Sutardji sesuai dengan sebuah ungkapan.

Bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang juga melahirkan penulis besar.

Sutardji tak dipungkiri adalah salah satu penulis besar dalam sejarah Indonesia.***

(Sambutan Denny JA selaku Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA ini dibacakan oleh Swary Utami Dewi)