Denny JA: Israel Perintahkan 1,1 Juta Warga Palestina Pindah?

Denny JA: Israel Perintahkan 1,1 Juta Warga Palestina Pindah?

-000-

Kehendak satu bangsa untuk merdeka jauh lebih kuat dibandingkan senjata sehebat apapun. Kehendak satu wilayah untuk bebas, untuk mencari keadilan, itu jauh lebih bertenaga dibanding pemerintahan manapun.

Inilah yang kita pelajari dalam sejarah. Itu pula respon kita mendengar berita mutakhir dari perang Israel melawan Hamas Palestina.

Israel di tanggal 13 Oktober 2023 meminta 1,1 juta penduduk Palestina untuk pindah dari Kota Gaza Utara ke bagian Selatan. Sebanyak 1,1 juta rakyat Palestina!

Ini menyusul satu serangan mendadak, tak terduga dengan skala korban yang besar, yang dilancarkan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023.

Serangan mendadak itu tidak hanya membuat Israel tercengang. Dunia pun terguncang. Saat itu Hamas berhasil meluncurkan 5000 roket selama 2 jam pertama, membunuh 600 warga Israel, dan menjadikan 100 orang sebagai tawanan.

Ini terburuk yang pernah dialami Israel sepanjang sejarah berdirinya negara itu.

Israel pun membalas dengan sama hebatnya, sama gilanya. Itu menyebabkan sampai hari kelima perang, sudah 1100 warga Palestina tewas.

Kini menyusul instruksi Israel 1,1 juta rakyat Palestina harus pindah ke selatan. Invasi darat Israel segera dimulai.

Dalam sejarah kita menemukan dua serangan mendadak serupa, yang tak terduga, dengan skala korban yang besar. Serangan mendadak yang gila- gilaan itu, selalu mendapatkan balasan yang sama gila-gilaanya.

Pertama, serangan dari Jepang ke Pearl Harbour, Amerika Serikat. Itu terjadi tanggal 7 desember 1941. Jepang melakukan serangan begitu hebatnya, begitu tak terduga, begitu mendadak. Sebanyak 2300 tentara Amerika yang mati.

Amerika terperangah saat itu. Dunia pun terperangah. Namun kemudian Amerika Serikat melakukan pembalasan yang begitu hebatnya, yang membuat dunia jauh lebih terperangah.

Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika pun menjatuhkan bom nuklir, yang tak pernah terjadi dalam sejarah. Kita tahu 80.000 orang Jepang tewas seketika. Melalui waktu jumlah korban tewas meningkat hingga 140.000 orang.

Kedua, serangan mendadak, tak terduga untuk kasus 911, 11 September 2001. Dua pesawat penumpang yang dibajak ditabrakan ke gedung tinggi, Twin Tower, WTC, New York, Amerika Serikat.

Tunai sudah 3000 orang tewas. Dan 6000 orang lainnya terluka. Ini peristiwa besar yang efeknya sampai sekarang masih terasa.

Amerika pun membalas sedemikian gilanya pula. Di berbagai belahan dunia, Amerika Serikat memimpin perang membasmi terorisme.

Sampai akhirnya, 10 tahun kemudian, pemimpin Al Qaedah, di balik serangan 911, Osama Bin Laden, di tahun 2011 ditemukan dalam persembunyiannya, dan tewas ditembak. Mayatnya dibuang ke laut lepas.

Amerika Serikat pun menguasai Afganistan, salah satu sarangnya Al Qaedah, dan membuat pemerintahan boneka di sana.

Tapi bagaimana ujung semua itu? Seberapa lama satu negara mampu menduduki negara lain di masa kini? Seberapa lama, misalnya Israel mampu menduduki Kota Gaza Palestina, nanti?

Kita belajar dari pengalaman Amerika Serikat. Benar negara super power ini berhasil menguasai Afghanistan di tahun 2001. Tapi 20 tahun kemudian, 2021, Amerika akhirnya harus hengkang dari sana. Musuh Amerika Serikat, kaum Taliban, kini berkuasa.

Perlawanan masyarakat setempat tak pernah berhenti. Biaya menguasai teritori wilayah yang rawan perlawanan massif sangat mahal, baik secara ekonomi, ataupun nyawa yang menjadi korban.

Di balik perlawanan militan itu adalah kehendak masyarakat setempat untuk merdeka, mengatur dirinya sendiri, untuk mengusir kekuatan asing.

Israel perlu belajar dari kasus ini. Hanya sebuah ilusi jika Israel ingin hidup damai, namun tak mengakomodasi kehendak Palestina untuk juga merdeka, memiliki negaranya sendiri.***

***Transkripsi yang dilengkapi dari Video EKSPRESI DATA Denny JA (14/10/2023)

**Dibolehkan mengutip dan menyebar luaskan tulisan/video di atas.