Ridho Rahmadi Nilai Analisis Forensik Digital soal Ijazah Jokowi Sulit Dibantah karena Bersifat Saintifik

Ridho Rahmadi Nilai Analisis Forensik Digital soal Ijazah Jokowi Sulit Dibantah karena Bersifat Saintifik

Akademisi sekaligus Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi, menilai analisis yang disampaikan pakar digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar terkait ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sulit, bahkan disebutnya nyaris mustahil, untuk dibantah. Menurut Ridho, hal itu karena temuan yang disampaikan Rismon didasarkan pada pendekatan ilmiah.

“Mengapa analisis Dr Rismon Hasiholan Sianipar, sangat sulit kalau tidak musatahil untuk dibantah,” kata Ridho dalam video yang ia unggah di X, Sabtu (22/11/2025).

Ridho menyebut pernyataannya disampaikan dalam kapasitas sebagai akademisi. Ia mengatakan fokus studinya berada pada bidang Artificial Intelligence (AI), yang ia tekuni sejak pendidikan magister di Ceko dan Austria, doktoral di Belanda, hingga saat menjadi peneliti tamu di Amerika.

Ia menjelaskan, pandangannya merupakan tinjauan ilmiah sekaligus respons terhadap buku Jokowi’s White Paper, yang memuat analisis Rismon mengenai ijazah Jokowi. Ridho menekankan, pendekatan yang digunakan Rismon disebutnya bersifat kuantitatif dalam ranah image processing, dengan metode yang menurutnya banyak beririsan dengan AI.

“Analisis Dr Rismon Sianipar sulit dibantah karena menggunakan pendekatan murni saintifik yang menggali kebenaran dan bukan mencari pembenaran,” ujar Ridho.

Ridho memaparkan, dalam pendekatan tersebut citra ijazah dikonversi menjadi representasi numerik. Representasi itu kemudian dihitung menggunakan formula matematika, sehingga menghasilkan indeks atau matriks yang disebutnya memungkinkan penarikan kesimpulan secara objektif dan ilmiah.

Ia menambahkan, apa yang disampaikan Rismon merupakan hasil komputasi fungsi matematika dalam konteks image processing. Ridho berpendapat matematika bersifat eksak dan tidak bergantung pada tafsir subjektif, karena menggunakan metode yang disebutnya telah teruji secara saintifik.

Selain itu, Ridho menilai bangunan analisis Rismon disusun secara komprehensif dan mampu merangkum temuan-temuan yang ia anggap mencerahkan. Ridho juga menyebut latar belakang Rismon sebagai lulusan Jepang penerima beasiswa Monbukagakusho.

Ridho menyatakan, bantahan terhadap temuan Rismon, menurutnya, hanya dapat dilakukan melalui temuan ilmiah lain yang sepadan, khususnya yang menggunakan pendekatan image processing yang juga teruji secara saintifik.

Baginya, membantah analisis tersebut serupa dengan membantah kepastian matematika. “Apakah kita ingin mengatakan satu tambah satu sama dengan dua itu bohong. Atau dua kali dua sama dengan empat juga bohong,” kata Ridho.