Ribuan Peserta Hadiri Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi” di Unisnu Jepara, Bahas Isu Tanah dan Kemanusiaan di Papua

Ribuan Peserta Hadiri Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi” di Unisnu Jepara, Bahas Isu Tanah dan Kemanusiaan di Papua

JEPARA — Sekitar 1.000 mahasiswa, pelajar, aktivis, dan masyarakat umum menghadiri penayangan film dokumenter Pesta Babi di lingkungan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Jumat (16/5) malam. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi terbuka mengenai isu kemanusiaan, eksploitasi sumber daya alam, serta situasi sosial di Papua.

Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan pemutaran film yang disaksikan bersama-sama di area kampus. Sejumlah penonton tampak menyimak film dengan serius. Dalam sesi foto bersama, beberapa peserta membawa poster bertuliskan “Papua Bukan Tanah Kosong” sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat Papua.

Sejumlah mahasiswa yang hadir menilai pemutaran dokumenter itu memberi sudut pandang baru mengenai kondisi Papua yang jarang dibahas secara mendalam di ruang publik. Selain sebagai hiburan alternatif, kegiatan tersebut juga dianggap menjadi sarana edukasi dan refleksi sosial.

Dosen hukum Unisnu Jepara, Amrina Rosyada, menyampaikan dalam sesi diskusi bahwa persoalan di Papua tidak dapat dilepaskan dari eksploitasi tanah dan sumber daya alam yang berdampak langsung pada masyarakat adat.

“Tanah Papua selama ini sering dipandang hanya sebagai objek pembangunan dan eksploitasi sumber daya, padahal di sana ada masyarakat adat yang memiliki hak hidup, hak budaya, dan hak atas tanahnya sendiri. Negara seharusnya hadir untuk memastikan hukum melindungi masyarakat, bukan justru menjadi alat pembenaran atas perampasan ruang hidup,” ujarnya.

Amrina juga menekankan pentingnya perspektif hukum dan hak asasi manusia dalam melihat konflik agraria maupun pembangunan di Papua. “Dalam prinsip hukum, masyarakat adat memiliki hak yang harus dihormati. Ketika pembangunan dilakukan tanpa melibatkan mereka secara adil, maka itu berpotensi melanggar hak-hak dasar warga negara,” tambahnya.

Selain pemutaran film, kegiatan ini diisi diskusi bersama akademisi dan peserta untuk membahas isi dokumenter serta realitas sosial yang terjadi di lapangan. Penyelenggara berharap acara tersebut dapat menjadi ruang belajar kritis bagi mahasiswa agar lebih peka terhadap isu sosial dan kemanusiaan di Indonesia, khususnya terkait Papua.