Reza Rahadian tampil dengan peran baru di dunia film tahun ini. Setelah dikenal luas sebagai aktor, ia debut sebagai sutradara lewat film Pangku produksi Gambar Gerak. Film ini mengangkat isu sosial tentang kehidupan ibu tunggal dalam kondisi yang tidak ideal, sekaligus menjadi karya yang memiliki makna personal bagi Reza, yang dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dan mempersembahkan film tersebut untuk sang ibu.
Judul Pangku ditarik dari fenomena “kopi pangku” yang pernah dilihat Reza di kawasan Pantura beberapa tahun lalu. Benang merah ceritanya berfokus pada perjuangan seorang perempuan bernama Sartika (Claresta Taufan) dalam menjalani hidup dan membesarkan anaknya, Bayu (Shakeel Fauzi), di tengah keterbatasan.
Film dibuka dengan adegan Sartika duduk di samping sopir truk yang sedang mengemudi. Dalam kondisi hamil, Sartika tampak lesu dan seolah mencari arah untuk bertahan hidup dan menemukan pekerjaan. Pembukaan ini disajikan dengan dialog minimal, mengandalkan ekspresi sebagai penutur utama. Pendekatan tersebut terasa menjadi pilihan penyutradaraan yang menonjol, sekaligus membangun rasa ingin tahu penonton tentang ke mana Sartika akan melangkah berikutnya.
Pengambilan gambar pada malam hari turut memperkuat suasana Pantura yang sunyi namun mencekam. Minimnya dialog dipadukan dengan nuansa visual yang menahan ketegangan, membuat atmosfer film terasa khusyuk dan rapat.
Dari sisi alur, Pangku bergerak cenderung landai, dengan dinamika yang tidak terlalu meledak-ledak. Cerita mengalir tanpa penekanan konflik hitam-putih antara antagonis dan protagonis. Pola ini membuat film terasa seperti paparan realitas sehari-hari, sehingga penonton yang mencari intensitas tinggi mungkin tidak menemukan spektrum dramatik yang tajam. Namun, film ini dapat menjadi pilihan bagi penonton yang ingin menyimak isu sosial dengan ritme yang lebih tenang.
Untuk memberi variasi pada cerita, film menghadirkan relasi romantis antara Sartika dan Hadi (Fedi Nuril). Elemen ini dipakai untuk menggambarkan kebutuhan manusia akan kasih sayang dan kedekatan, terlepas dari situasi hidup yang sedang dijalani. Selain itu, sosok Yuna (Nazyra C. Noer) dimunculkan sebagai penyegar yang memancing tawa, meski porsi kemunculannya disebut terasa terbatas.
Isu utama film—kerasnya menjadi ibu tunggal—ditampilkan melalui perjuangan Sartika dalam memenuhi kebutuhan Bayu, termasuk urusan gizi dan pendidikan. Latar tempat juga digunakan untuk mempertegas kondisi sosial yang melingkupi para tokohnya: rumah-rumah yang berhimpitan, suasana pasar ikan, kedai kopi pangku, hingga gang-gang kecil menjadi elemen yang menghidupkan dunia cerita.
Dari segi akting, para pemain dinilai tampil rapi sesuai porsinya. Christine Hakim sebagai Maya dan Claresta Taufan sebagai Sartika disebut paling menonjol dengan permainan yang natural. Penampilan pemain lain seperti Nazyra C. Noer dan Kaan Lativan juga melengkapi keseluruhan cerita.
Meski demikian, penutup film dinilai meninggalkan pertanyaan. Cerita disebut melompat ke beberapa tahun ke depan tanpa penjelasan pendukung, sehingga menimbulkan kesan menggantung. Namun, pendekatan ini juga dapat dibaca sebagai pilihan gaya seorang sutradara baru yang membiarkan penonton menafsirkan akhir berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya masing-masing.

