Rencana Bank Indonesia (BI) memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) ke pasar global memunculkan beragam tanggapan warganet. Sebagian menilai langkah ini sebagai kemajuan besar bagi sistem pembayaran nasional, sementara yang lain menyuarakan sejumlah kekhawatiran, terutama soal kesiapan infrastruktur dan keamanan data.
Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui Instagram @bank_indonesia pada Kamis (22/1/2026), BI menargetkan pada kuartal I 2026 QRIS dapat digunakan di China dan Korea Selatan. India disebut menjadi negara berikutnya yang dibidik. Dengan ekspansi ini, transaksi lintas negara diharapkan bisa dilakukan tanpa perlu menukar uang tunai atau menggunakan kartu internasional.
Di media sosial, dukungan terhadap rencana tersebut cukup kuat. Sejumlah warganet menilai perluasan penggunaan QRIS menunjukkan sistem pembayaran Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Ada pula yang menekankan sisi kepraktisan, terutama bagi wisatawan, karena pembayaran dapat dilakukan cukup dengan memindai kode menggunakan aplikasi lokal. Warganet lain menilai kemudahan ini berpotensi memangkas biaya konversi mata uang dan mengurangi ketergantungan pada uang tunai.
Selain bagi pelancong, ekspansi QRIS juga dipandang membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, khususnya di kawasan wisata yang kerap melayani konsumen asing.
Namun, respons kritis juga bermunculan. Sebagian warganet mempertanyakan kesiapan sistem jika QRIS digunakan lintas negara dengan volume transaksi besar. Ada yang menyoroti pengalaman gangguan layanan dalam transaksi domestik dan mempertanyakan apakah infrastruktur, termasuk kapasitas server, cukup kuat untuk menopang penggunaan di luar negeri.
Isu perlindungan data pribadi turut menjadi perhatian. Sejumlah warganet mengkhawatirkan kerentanan data transaksi pengguna Indonesia ketika terhubung dengan sistem pembayaran negara lain. Di sisi lain, muncul pula pandangan skeptis yang menilai manfaat QRIS global belum tentu dirasakan secara merata, karena pengguna yang sering bepergian ke luar negeri dinilai masih relatif sedikit.
Di tengah perdebatan tersebut, BI menyatakan perluasan QRIS dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan stabilitas sistem pembayaran dan perlindungan konsumen. Rencana ekspansi ke China, Korea Selatan, dan India dinilai strategis, namun juga memunculkan tuntutan publik agar penguatan keamanan, kesiapan infrastruktur, dan edukasi pengguna berjalan seiring.
QRIS yang selama ini akrab digunakan untuk pembayaran sehari-hari kini memasuki fase baru melalui rencana pemanfaatan lintas negara. Langkah ini sekaligus memperluas ruang diskusi publik mengenai manfaat, risiko, dan kesiapan ekosistem pembayaran digital Indonesia.

