Refleksi Arah Pendidikan: Tantangan Gizi, Kualitas Guru, dan Perubahan Era Teknologi

Refleksi Arah Pendidikan: Tantangan Gizi, Kualitas Guru, dan Perubahan Era Teknologi

Pendidikan kerap disebut sebagai fondasi yang memungkinkan sebuah bangsa berdiri tegak. Namun di tengah percepatan teknologi, muncul pertanyaan yang kembali mengemuka: sejauh mana posisi pendidikan Indonesia saat ini, dan apa yang perlu dibenahi agar mampu menjawab tuntutan zaman?

Dalam sebuah diskusi, Helmy Yahya menyoroti capaian Indonesia di tingkat global, khususnya pada kemampuan matematika dan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Ia mengingatkan bahwa skor Indonesia masih kerap berada di peringkat bawah. Di saat yang sama, narasi bahwa “orang Indonesia pintar-pintar” dinilai perlu diuji dengan data, mengingat jumlah talenta unggul dibanding total populasi disebut masih belum besar.

Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Helmy mengaitkannya dengan isu gizi dan keberlanjutan, termasuk stunting yang disebut menyerap anggaran hingga triliunan rupiah. Menurutnya, perbaikan gizi merupakan investasi jangka panjang yang tidak murah dan tidak instan, tetapi menjadi syarat penting untuk memperkuat masa depan kemampuan belajar anak-anak.

Selain gizi, perhatian juga diarahkan pada posisi guru sebagai penentu kualitas pendidikan. Dalam refleksi yang disampaikan, muncul pertanyaan tentang bagaimana mutu pendidikan dapat meningkat jika para guru masih menghadapi keterbatasan ekonomi. Helmy menyampaikan gagasan agar perekrutan guru mengutamakan yang terbaik dan diiringi apresiasi materi yang layak, bahkan disebut hingga puluhan juta rupiah.

Ia juga menyinggung realitas guru honorer yang menerima bayaran belum mencukupi kebutuhan hidup minimal. Kondisi tersebut berpotensi memecah fokus kerja guru karena harus mencari tambahan penghasilan, sehingga waktu untuk pengembangan kapasitas (capacity building) berkurang. Dalam pandangan itu, memuliakan guru diposisikan sebagai kunci untuk membentuk generasi yang bukan hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga memiliki adab.

Diskusi yang sama turut menempatkan perubahan teknologi sebagai konteks besar yang tak bisa dihindari. Perkembangan disebut telah bergeser dari era cetak yang menekankan membaca dan menghafal, menuju era mesin pencari, berlanjut ke era algoritma media sosial, hingga memasuki era prompting kecerdasan buatan.

Teknologi dipandang bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan baru. Generasi saat ini disebut semakin visual, sehingga pendekatan pembelajaran yang hanya bertumpu pada narasi teks dinilai tidak selalu memadai. Salah satu refleksi yang muncul adalah pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu “menghidupkan” kembali sejarah melalui visualisasi, agar tokoh dan peristiwa masa lalu dapat dipahami lebih dekat dan tidak dianggap sebagai cerita usang.

Di tengah perubahan itu, muncul penekanan agar masyarakat dan pemangku kepentingan pendidikan bersedia membuka diri terhadap kemajuan tanpa kehilangan jati diri. Perbaikan gizi, peningkatan kesejahteraan dan kualitas guru, serta adaptasi teknologi menjadi rangkaian isu yang dipandang saling terkait dalam menentukan arah pendidikan Indonesia ke depan.