Aktris Prilly Latuconsina mengungkapkan bahwa perannya sebagai pocong dalam film pendek Holy Crowd menghadirkan karakter yang tidak lazim dan membawa isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam film ini, Prilly memerankan tokoh bernama Ratna yang tidak digambarkan sebagai pocong pada umumnya.
“Ini bukan pocong biasa. Karakternya justru menggambarkan situasi yang sering terjadi di sekitar kita,” kata Prilly dalam konferensi pers Next Step Studio Indonesia di Institut Français Indonesia (IFI) Thamrin, Jakarta, Selasa.
Holy Crowd menjadi salah satu dari empat film pendek karya sineas Indonesia yang dijadwalkan tayang perdana dalam program La Semaine de la Critique pada Festival Film Cannes 2026. Film ini disutradarai oleh Reza Fahriyansyah bersama sineas Malaysia, Ananth Subramaniam.
Prilly menjelaskan, karakter Ratna menawarkan sudut pandang yang merefleksikan relasi sosial yang kerap bersifat transaksional. Menurutnya, seseorang sering didekati ketika dianggap memiliki nilai atau keuntungan tertentu, namun bisa ditinggalkan ketika kondisi tersebut berubah.
“Kalau kita terlihat menguntungkan, orang akan dekat. Tapi saat tidak, apakah mereka tetap ada,” ujarnya.
Ia mengaku tersentuh saat pertama kali membaca naskah Holy Crowd karena merasa tema tersebut relevan dengan pengalaman yang kerap ditemui dalam kehidupan sosial. Prilly berharap pesan film dapat tersampaikan melalui pendekatan yang ringan, namun tetap mengena bagi penonton.
“Dibawakan dengan cara yang fun, tapi sebenarnya itu dinamika kehidupan yang kita hadapi setiap hari,” katanya.
Next Step Studio Indonesia merupakan program kolaborasi sinema internasional yang mempertemukan sineas Indonesia dan Asia Tenggara untuk memproduksi film pendek. Program ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
Empat film pendek dalam program tersebut dijadwalkan tayang perdana pada 14 Mei 2026 dalam rangkaian La Semaine de la Critique, yang menjadi bagian dari Festival Film Cannes. Selain Holy Crowd, tiga film lainnya adalah Original Wound, Annisa, dan Mothers Are Mothering, yang masing-masing disutradarai oleh sineas Indonesia dan kolaborator dari Asia Tenggara.