Bantul—Bidang Immawati Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar agenda Pra Dirasah Nisaiyah pada Rabu (22/4/2026). Kegiatan berlangsung di Kedai De Loerah, Tamantirto, Bantul, dan dimulai pukul 20.10 WIB dalam suasana diskusi yang dinamis dan inklusif.
Pra Dirasah Nisaiyah ini digelar sebagai wadah intelektual bagi kader untuk membedah diskursus gender dan isu sosial dalam bingkai pergerakan mahasiswa, khususnya IMM. Tema yang diangkat adalah “Ruang Gerak Kader dalam Merespon Isu Sosial”.
Agenda tersebut bertujuan mengkaji isu gender secara faktual guna membangun pemahaman dasar mengenai perbedaan antara konstruksi biologis dan konstruksi sosial. Melalui forum ini, kader diharapkan mampu memetakan genealogi pemikiran tokoh gender, baik dari perspektif Barat maupun Islam, sehingga terbentuk nalar kritis terhadap ketimpangan sosial dan sistem patriarki. Selain itu, kegiatan ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi kader IMM agar relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Diskusi dipandu oleh moderator Fakhir Fahmi Asraf, dengan narasumber Immawati Adinda Rizki Fitriana.
Dalam pemaparannya, Adinda mengawali pembahasan dengan membedakan konsep seks dan gender. Ia menekankan bahwa seks bersifat kodrati atau biologis, sedangkan gender merupakan hasil konstruksi sosial yang dinamis sesuai kemampuan laki-laki dan perempuan. Diskusi kemudian menyoroti fenomena “domestifikasi” perempuan, yakni pembatasan peran perempuan pada ranah domestik yang dinilai menjadi hambatan struktural karena dapat mereduksi akses perempuan terhadap pendidikan dan ruang publik.
“Namun konstruksi ini dapat diubah melalui transformasi kesadaran. Telah banyak history yang menceritakan tentang perjuangan Perempuan dalam mengubah transformasi tersebut. Hal itu dapat kita lihat dari kisah RA Kartini, Siti Walidah, dan tokoh perempuan lainnya,” ujar Adinda.
Pembahasan berlanjut pada pemetaan pemikiran tokoh dalam dua diskursus besar. Dari perspektif Barat, Adinda mengulas transisi gelombang feminisme, antara lain melalui pemikiran Simone de Beauvoir yang menyebut posisi perempuan sebagai “The Other”. Ia juga menyinggung teori Betty Friedan, teori performativitas gender Judith Butler, serta pendekatan interseksionalitas oleh Bell Hooks. Menurut paparan tersebut, kesadaran gender perlu dimunculkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara dari perspektif Islam, diskusi menyoroti pemikiran Amina Wadud terkait hermeneutika Al-Qur’an yang setara, Asma Barlas yang mengkritik tafsir patriarkis, serta Fatima Mernissi yang membedah relasi kuasa dalam sejarah politik Islam. Dalam rangkaian pembahasan itu ditegaskan bahwa Islam hadir untuk memuliakan perempuan dari berbagai perlakuan buruk dan perampasan hak.
Forum juga membahas urgensi keadilan gender dalam pergerakan, terutama di tengah situasi post truth. Dalam diskusi disebutkan bahwa data Indeks Ketimpangan Gender (IKG) 2024 menunjukkan masih adanya kesenjangan yang signifikan di masyarakat. Kajian tersebut memandang kesadaran gender bukan sekadar wacana elit, melainkan bagian dari alat perjuangan kader IMM untuk menekan ketimpangan dan mendorong terwujudnya keadilan sosial.
Di bagian lain, diskusi menegaskan bahwa Islam menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan terletak pada perbedaan biologis semata, melainkan pada keimanan dan ketakwaan sebagai penilaian di sisi Allah SWT.
Menjelang penutupan, peserta menyepakati bahwa ambiguitas pemahaman masyarakat terhadap peran gender dipengaruhi akumulasi sistem patriarki yang berkelindan dengan tantangan modernisasi. Diskusi juga menyimpulkan pendidikan sebagai kunci untuk membongkar stigma. Kesadaran gender, menurut forum, tidak dimaksudkan untuk menciptakan kompetisi kekuatan antargender, melainkan sebagai komitmen menghapuskan segala bentuk penindasan (non-oppression).
Di akhir sesi, pemateri menegaskan kedaulatan perempuan atas dirinya sendiri. “Perempuan punya kuasa atas dirinya, mereka berdaulat dan merdeka untuk menentukan langkahnya,” kata Adinda.