Film Pengepungan di Bukit Duri karya sutradara Joko Anwar resmi tayang di platform streaming Prime Video sejak 17 April 2025. Kehadirannya di layanan OTT global memperluas akses penonton, termasuk dari luar Indonesia, untuk menyaksikan film yang memuat kritik sosial.
Sejak penayangan perdananya, film ini mencatat capaian penonton yang menonjol. Dalam sepuluh hari, Pengepungan di Bukit Duri menembus angka satu juta penonton. Hingga awal Juni 2025, jumlah penonton dilaporkan terus bertambah hingga mencapai 1,89 juta, menempatkannya sebagai salah satu produksi lokal dengan capaian terbesar tahun ini.
Dibintangi sejumlah aktor papan atas, film ini mengisahkan Edwin, seorang guru pengganti yang terjebak dalam situasi mencekam di sebuah sekolah. Cerita berlatar tahun 2027 dengan nuansa distopia, ketika diskriminasi dan ketegangan sosial memuncak hingga berujung pada pengepungan.
Selain menghadirkan ketegangan khas thriller, film ini juga menawarkan refleksi atas kondisi sosial. Konflik utama dalam cerita disebut berakar dari peristiwa nyata yang pernah disaksikan langsung oleh Joko Anwar, yang menyatakan bahwa karya tersebut dekat dengan pengalaman pribadinya.
Dalam podcast Panggil Saya BTP yang dirilis pada 16 April, Joko menceritakan pengalamannya semasa SMA ketika ia melihat teman-temannya kerap melakukan kekerasan terhadap kelompok ras tertentu. Ia menyebut tindakan diskriminatif itu terjadi berulang kali.
“Mereka melakukan kegiatan yang terlihat telah sering dilakukan. Mereka hunting ‘anak Cina’ untuk dipukulin. Mereka tarik anaknya, lalu pukulin. Saya pada saat itu bingung dan shock, itu mengganggu sampai saya dewasa,” ungkap Joko.
Joko juga mengatakan proses pembuatan film ini menjadi caranya menebus kesalahan di masa lalu, ketika ia memilih diam dan tidak mengambil tindakan.
“Jadi film ini adalah penebusan dosa saya, di film ini juga ada karakter yang mewakili hal saya rasakan kala itu,” jelasnya.

