Pengamat: Sikap Tenang Hadapi Isu Perlu Dibangun dari Keluarga hingga Lingkungan Lebih Luas

Pengamat: Sikap Tenang Hadapi Isu Perlu Dibangun dari Keluarga hingga Lingkungan Lebih Luas

JAKARTA — Pengamat sosial sekaligus mantan dosen Sosiologi Universitas Nasional (Unas), Hasto Atmojo Suroyo, menilai upaya menjaga ketenangan masyarakat di tengah beredarnya berbagai isu perlu dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan kehidupan bertetangga. Menurutnya, sikap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

Hasto, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) periode 2019–2024, mengatakan ketenangan individu akan lebih efektif bila ditularkan secara berjenjang dari keluarga, ke lingkungan tetangga, hingga komunitas yang lebih luas. Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu meredam keresahan di masyarakat.

Dalam situasi arus informasi yang bergerak cepat, Hasto menekankan pentingnya sumber informasi yang kredibel. Ia menilai media massa arus utama masih dapat menjadi rujukan karena informasi yang disajikan telah melalui proses verifikasi.

Namun, ia juga menyoroti bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi dipengaruhi konsistensi komunikasi pemerintah. Perbedaan pernyataan antarpihak, menurutnya, berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah publik.

Hasto menegaskan pemberian rasa aman merupakan kewajiban dasar aparat keamanan dan aparat penegak hukum. Karena itu, ia memandang komunikasi publik yang menenangkan perlu diperkuat agar tidak memperbesar keresahan. Ia juga mengingatkan pejabat publik untuk menghindari pernyataan yang dapat memicu kekhawatiran masyarakat.

Selain itu, Hasto menilai jaringan aparat keamanan hingga tingkat desa dapat dimanfaatkan untuk sosialisasi kepada masyarakat terkait informasi yang belum jelas kebenarannya. Menurut dia, langkah tersebut dapat membantu masyarakat memilah isu yang beredar.

Ia turut menyinggung fenomena sejumlah pusat perbelanjaan yang memperkuat sistem pengamanan, seperti meninggikan pagar. Hasto menilai hal itu tidak lepas dari memori kolektif masyarakat terhadap peristiwa sosial yang pernah terjadi, yang kemudian memengaruhi respons masyarakat maupun pelaku ekonomi dalam mengantisipasi situasi tertentu.

Di sisi lain, ia menyebut gejala serupa dapat terlihat dari kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan aset ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti dolar atau emas.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta masyarakat tidak khawatir berlebihan terhadap keamanan dan ketertiban di Jakarta. Ia menyatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama jajaran TNI, Polri, serta aparat penegak hukum siap berkoordinasi untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Pramono menduga pemasangan pagar tinggi oleh pengelola gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan dilakukan karena adanya kekhawatiran. Namun, ia mengingatkan bahwa kekhawatiran berlebihan juga tidak baik dan menyebut akan meminta agar pagar-pagar tersebut dilepas kembali pada waktunya.

Meski demikian, Pramono meyakini keamanan Jakarta akan tetap kondusif. Ia menyebut pengalaman kerusuhan pada tahun sebelumnya menjadi pelajaran untuk memperkuat sinergi pengamanan, seraya memastikan upaya koordinasi terus dilakukan agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman.

Sementara itu, Polda Metro Jaya membentuk tim preventive strike dan meningkatkan intensitas patroli sebagai langkah mitigasi untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga menjelang Agustus.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto mengatakan hingga saat ini kepolisian belum menerima surat pemberitahuan terkait rencana aksi. Meski begitu, pihaknya tetap memantau perkembangan informasi di ruang digital melalui Direktorat Reserse Siber dan Direktorat Reserse Kriminal Umum.

Selain membentuk tim khusus, Polda Metro Jaya juga meningkatkan skala patroli dari skala kecil, sedang, hingga besar. Patroli difokuskan pada sejumlah titik strategis, terutama wilayah perbatasan dan daerah penyangga seperti Bekasi dan Depok yang berbatasan dengan Jawa Barat, serta Tangerang yang berbatasan dengan Banten.

Budi menegaskan kondisi kamtibmas di wilayah hukum Polda Metro Jaya hingga kini tetap aman dan terkendali. Ia menyebut situasi tersebut merupakan hasil sinergi antara Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan elemen masyarakat, seraya menekankan bahwa menciptakan rasa aman merupakan tanggung jawab bersama.