Pemkab Gowa Perkuat Penanganan Kemiskinan Ekstrem lewat Tim LACAK dan Pendataan Door to Door

Pemkab Gowa Perkuat Penanganan Kemiskinan Ekstrem lewat Tim LACAK dan Pendataan Door to Door

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa, Sulawesi Selatan, memperkuat penanganan kemiskinan ekstrem melalui Tim Layanan Aksi Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK). Tim ini melakukan pendataan lapangan dari rumah ke rumah untuk memastikan intervensi bantuan lebih tepat sasaran.

Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang menyatakan bantuan kepada keluarga miskin ekstrem merupakan bagian dari program untuk menekan hingga menghilangkan status miskin ekstrem di wilayah tersebut. Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus melakukan intervensi agar target penurunan angka kemiskinan ekstrem dapat segera terwujud.

Ketua Tim LACAK Kabupaten Gowa, Kaharuddin Muji, menyebut tantangan utama penanggulangan kemiskinan ekstrem di daerahnya berkaitan dengan akurasi data. Menurut dia, masih ada keluarga miskin ekstrem yang belum terjangkau intervensi akibat ketidaksesuaian data.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan ekstrem di Gowa tercatat 0,14 persen. Namun, Kaharuddin mengatakan pihaknya masih menemukan ratusan keluarga yang membutuhkan perhatian dan penanganan.

Ia menjelaskan, LACAK merupakan program lanjutan dari pelaksanaan Gowa Sejahtera (Gowa Masunggu) pada 100 hari kerja pertama Bupati dan Wakil Bupati Gowa periode 2025–2030. Dalam pelaksanaan program tersebut, ditemukan keluarga yang tergolong miskin ekstrem tetapi tidak tercatat dalam basis data resmi.

Menurut Kaharuddin, LACAK hadir untuk memperbaiki ketepatan data melalui pendataan langsung ke rumah-rumah warga. Data hasil pendataan ini disebut akan melengkapi Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) karena berbasis kondisi faktual di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, LACAK melakukan pendataan aktif melalui jaringan Sahabat LACAK yang tersebar di 18 kecamatan, 167 desa dan kelurahan, serta 675 dusun. Pendataan dilakukan secara door to door dengan asesmen komprehensif mencakup aspek kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kondisi rumah, kepemilikan identitas, dan riwayat bantuan.

Kaharuddin mengatakan data dihimpun menggunakan indikator BPS, BKKBN, dan Kementerian Sosial melalui aplikasi Si LACAK. Hasilnya kemudian disertai rekomendasi dan disampaikan kepada Pemkab Gowa melalui Dinas Sosial untuk ditindaklanjuti.

Sepanjang 2025, hasil kerja LACAK disebut telah menghasilkan sejumlah intervensi, antara lain perbaikan 23 rumah tidak layak huni (RTLH), 18 rumah yang dalam proses pembangunan atau telah direkomendasikan, serta fasilitasi akses air bersih PDAM untuk tiga rumah. Selain itu, terdapat bantuan biaya pengobatan bagi 15 kepala keluarga, serta bantuan modal usaha dan program Z-Mart bagi 13 kepala keluarga.

Seluruh intervensi lapangan tersebut menggunakan anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pada 2025, alokasi yang dilakukan sebesar Rp213.500.000 untuk lima bulan. Sementara pada 2026 direncanakan anggaran Rp500.000.000 untuk 12 bulan guna mendukung operasional 867 relawan Sahabat LACAK yang bekerja di seluruh wilayah Kabupaten Gowa.

Kaharuddin menambahkan anggaran itu mencakup insentif relawan sekitar Rp100.000 per bulan, perlengkapan dan operasional lapangan, serta pelatihan dan pembekalan relawan. Dengan cakupan wilayah yang luas dan tugas pendampingan langsung kepada masyarakat, ia menilai anggaran tersebut masih tergolong terbatas.