Pameran "Kisah-Kisah dari Hulu" Angkat Isu Lingkungan dan Sosial Kapuas Hulu

Pameran "Kisah-Kisah dari Hulu" Angkat Isu Lingkungan dan Sosial Kapuas Hulu

Belasan seniman muda Kalimantan Barat akan memamerkan hasil eksplorasi mereka tentang isu lingkungan dan sosial di pedalaman Kapuas Hulu melalui pameran seni lintas medium bertajuk Kisah-Kisah dari Hulu. Pameran ini merupakan luaran program Art Studies yang diinisiasi komunitas Inaya Kayan, setelah para peserta menjalani pembelajaran langsung bersama masyarakat adat.

Kisah perjalanan tersebut disampaikan dalam dialog TOSERBA di Studio RRI Pro 2 Pontianak, Senin (13/7/2026). Dalam perbincangan yang dipandu penyiar Naufal Rifqi, dua ilustrator muda, Maratushsolihah (Mara) dan Dustin, menceritakan pengalaman mereka selama empat hari bermukim di Dusun Lauk Rugun, Bukung, dan Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu.

Mara dan Dustin mengaku mengalami culture shock bernada positif sejak kedatangan. Mereka menyebut rombongan disambut dengan upacara adat dan diperlakukan hangat saat tinggal di bilik-bilik Rumah Betang. Selama berada di lokasi, para peserta mengikuti keseharian warga, mulai dari mandi berjam-jam di sungai, menambak ikan, hingga mencari sayur di hutan.

Menurut Mara, program tersebut membawa pembelajaran yang melampaui urusan visual. Ia mengatakan para peserta awalnya mengira kegiatan itu berfokus pada pencarian inspirasi menggambar alam, namun di lapangan mereka menemui realitas yang lebih kompleks, termasuk isu pembabatan hutan dan kerentanan posisi perempuan. Mara juga menyoroti edukasi menjaga alam yang ia amati melalui interaksi anak-anak dengan sungai.

Setiap seniman, kata mereka, diberi ruang untuk menyerap pengetahuan lokal dan kegelisahan yang ditemui sebagai fondasi karya. Dustin menuturkan kekagumannya pada tradisi menenun yang ia lihat sebagai penopang ekonomi keluarga di Rumah Betang. Ia juga menyaksikan proses pengambilan pewarna alam dari hutan yang disebut harus didahului ritual adat sebagai bentuk penghormatan terhadap keseimbangan alam.

Di sisi lain, para peserta menyadari nilai kebudayaan yang mereka temui menuntut kehati-hatian dalam pengolahan ide. Mereka mempertimbangkan aspek etis agar karya yang dibuat tidak jatuh pada kesan mengeksploitasi atau sekadar mengglorifikasi kearifan lokal.

Seluruh arsip pembelajaran, termasuk goresan digital, rekaman audio, dan tulisan dari ekspedisi, akan dipresentasikan kepada publik dalam pameran Kisah-Kisah dari Hulu. Pameran ini dibuka gratis untuk umum dan akan berlangsung di Rumah Budaya Caping, Pontianak, pada 17–19 Juli 2026. Pengunjung dapat menikmati karya sekaligus berinteraksi dengan para pembuatnya. Informasi lebih lanjut tersedia melalui akun Instagram @inayakayan.