Pernyataan mantan Ketua MPR, Amin Rais, yang membagi partai politik ke dalam dikotomi “partai Allah” dan “partai Setan” menuai kritik. Salah satu tanggapan datang dari pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk.
Hamdi menilai, cara pandang yang membawa simbol keagamaan tersebut ke ranah politik berpotensi meningkatkan radikalisme di tingkat akar rumput. Karena itu, ia menyarankan agar Tuhan dan Setan tidak dijadikan rujukan dalam perdebatan maupun kompetisi politik.
Menurutnya, penggunaan dikotomi semacam itu dapat mendorong polarisasi dan memperkeras cara pandang masyarakat dalam menilai pilihan politik.

