Muhammada Hasan Abdul Wahid, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, menilai kehidupan sosial saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, dinamika tersebut membawa dampak positif sekaligus negatif, sehingga diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyoroti isu kekerasan seksual sebagai persoalan serius yang merusak martabat manusia. Dalam pandangannya, lingkungan pendidikan harus menjadi ruang aman bagi semua individu. Kampus, kata dia, tidak boleh memberi ruang bagi tindakan pelecehan dalam bentuk apa pun. Ia menekankan pentingnya edukasi, regulasi, serta keberanian untuk melapor sebagai kunci pencegahan.
Selain itu, ia juga menyinggung perundungan atau bullying yang dinilai masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan maupun sosial. Ia menyatakan perundungan dapat berdampak panjang terhadap kondisi mental seseorang. Karena itu, ia memandang mahasiswa perlu ikut membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menolak tindakan merendahkan orang lain, baik secara verbal maupun melalui media digital.
Dalam isu antikorupsi, ia menyebut korupsi sebagai masalah besar yang menghambat pembangunan bangsa. Ia menilai sikap jujur perlu ditanamkan sejak dini, termasuk di kehidupan mahasiswa, dengan integritas sebagai dasar membangun masa depan Indonesia. Menurutnya, tindakan korupsi dalam bentuk apa pun tetap merugikan masyarakat, baik skala kecil maupun besar.
Terkait intoleransi dan diskriminasi, ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya yang perlu dijaga dengan sikap toleran. Ia menegaskan tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan agama, ras, gender, maupun latar belakang sosial. Sikap saling menghormati, menurutnya, merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan.
Ia juga menilai terorisme dan radikalisme sebagai ancaman serius bagi keamanan negara. Menurutnya, pendidikan serta pemahaman agama yang moderat diperlukan untuk mencegah penyebaran paham ekstrem. Ia menyebut mahasiswa perlu berperan sebagai agen perdamaian yang menolak kekerasan dan ideologi yang merusak persatuan bangsa.
Di tengah arus globalisasi, ia menyoroti masuknya budaya asing yang semakin mudah. Ia berpendapat masyarakat perlu mampu menyaring budaya global tanpa meninggalkan kearifan lokal. Baginya, budaya lokal merupakan identitas bangsa yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Isu lain yang ia angkat adalah kesetaraan gender. Ia menyatakan dukungan terhadap kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, serta kesempatan untuk berkembang. Ia menegaskan tidak boleh ada diskriminasi berbasis gender dalam bentuk apa pun.
Melalui berbagai isu tersebut, ia menekankan peran mahasiswa dalam menjaga nilai kebangsaan sekaligus mendorong terciptanya ruang sosial yang aman, adil, dan saling menghormati.