Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Rote Ndao menghadapi krisis bahan bakar minyak (BBM) sejak sepekan terakhir. Pada Jumat (6/2/2026), lima stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan kosong total tanpa pasokan Pertalite, Pertamax, dan Bio Solar.
Kelangkaan BBM diduga dipicu keterlambatan distribusi dari Kupang menuju Rote Ndao. Kondisi tersebut disebut melanda SPBU swasta di seluruh wilayah kabupaten.
Wartawan lokal Rudi Mandala menilai krisis BBM berdampak serius terhadap perekonomian masyarakat. Menurutnya, kelangkaan BBM menimbulkan efek domino pada berbagai sektor, termasuk meningkatnya biaya logistik, tekanan inflasi daerah, serta penurunan daya beli yang berujung pada melemahnya aktivitas ekonomi harian.
Kelangkaan BBM juga memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU hingga sekitar 0,5 kilometer. Antrean melibatkan angkutan kota, kendaraan pribadi, sepeda motor, hingga mobil travel.
Situasi itu turut mendorong lonjakan harga BBM eceran di tingkat pengecer. Pertalite dan Pertamax dilaporkan dijual dengan harga Rp18.000 hingga Rp25.000 per liter.
Rudi mengingatkan, jika distribusi tidak segera dibenahi, kondisi ekonomi masyarakat berpotensi memburuk. Ia juga memperingatkan risiko meningkatnya pengangguran dan kriminalitas apabila krisis berlangsung berkepanjangan.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Rote Ndao, Meksi Mooy, menjelaskan kelangkaan terjadi karena kapal BBM dari Depot Tenau Kupang tertahan gelombang besar di Pelabuhan Papela. Ia menyebut kapal sudah berada di perairan Rote dan distribusi dipastikan kembali lancar pada hari yang sama.

