SURABAYA — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengungkap pernah berada di titik terendah secara finansial hingga saldo rekeningnya mencapai nol rupiah. Pengakuan yang disampaikan Selasa (25/02) itu menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial karena dinilai jarang diutarakan secara terbuka oleh figur publik.
Politisi yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan kisah tersebut bukan rekayasa maupun strategi pencitraan. Ia menyampaikan pernyataan itu untuk meluruskan spekulasi yang menyebut pengakuannya sebagai hoaks. Menurutnya, fase tanpa kepastian ekonomi tersebut merupakan bagian nyata dari perjalanan hidupnya sebelum dikenal luas sebagai senator.
“Fase itu bukan sesuatu yang memalukan. Justru di situlah saya belajar memahami arti bertahan dan memperjuangkan harapan,” ujar Lia.
Ia menjelaskan, keterbatasan finansial membuatnya harus mengatur pengeluaran secara ketat, memilah kebutuhan prioritas, serta menunda berbagai keinginan pribadi. Pengalaman itu, kata dia, membentuk disiplin, daya tahan mental, sekaligus empati terhadap masyarakat yang hidup dalam tekanan ekonomi.
Secara kronologis, Lia menyebut masa sulit tersebut terjadi sebelum ia aktif sepenuhnya di dunia politik nasional. Saat itu, ia menghadapi kondisi keuangan yang tidak stabil, sementara tuntutan kehidupan terus berjalan. Situasi tersebut disebutnya menjadi titik balik untuk memperkuat kapasitas diri, baik secara profesional maupun sosial.
Dalam konteks tugasnya sebagai anggota DPD RI, Lia mengatakan pengalaman itu memengaruhi perspektifnya terhadap kebijakan publik. Ia mengaku lebih peka pada isu ekonomi kerakyatan, terutama pemberdayaan usaha kecil, akses pembiayaan, dan perlindungan kelompok rentan.
Ia juga menyinggung standar kesuksesan yang kerap ditampilkan di ruang publik. Menurutnya, narasi keberhasilan yang terlihat instan tidak selalu menggambarkan proses panjang di baliknya dan dapat memicu tekanan psikologis bagi generasi muda yang merasa tertinggal.
“Setiap orang punya ritme dan proses masing-masing. Jangan merasa gagal hanya karena belum sampai di titik yang sama,” katanya.
Sejumlah kalangan menilai pengakuan tersebut memperlihatkan sisi manusiawi seorang pejabat publik. Di tengah citra glamor yang sering melekat pada dunia politik, keterbukaan mengenai masa sulit dinilai relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi tantangan pascapandemi serta fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Bagi Lia, pengalaman saldo nol bukan sekadar kenangan, melainkan fondasi nilai dalam menjalankan amanah sebagai wakil daerah. “Dari titik itu saya belajar bahwa keterbatasan bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk membangun kekuatan,” pungkasnya.

