Sebuah video yang beredar di WhatsApp, Instagram, dan Facebook memuat klaim bahwa mencium kucing dapat menularkan bakteri atau parasit yang disebut mampu menginfeksi otak manusia dan mengubah perilaku menjadi lebih mudah marah. Dalam narasi video itu, infeksi digambarkan berlangsung melalui sejumlah tahap, mulai dari perpindahan “telur parasit” ke bibir, menetas di lambung, melemahkan sistem imun, hingga membangun “sarang” di otak untuk memanipulasi zat kimia tubuh.
Tempo menerima permintaan pembaca untuk memeriksa kebenaran klaim tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan klaim itu menyesatkan. Kucing memang dapat menjadi inang parasit Toxoplasma, tetapi penularannya ke manusia terutama terjadi melalui paparan feses (kotoran) kucing yang terinfeksi, bukan lewat kontak fisik biasa seperti mencium kucing.
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Siti Gusti Ningrum, menjelaskan bahwa kucing merupakan inang utama parasit Toxoplasma. Namun, penularan kepada manusia terjadi apabila kotoran kucing yang terinfeksi tidak sengaja tertelan. Menurut Siti, dampak infeksi ini tidak digambarkan sebagai “membajak otak”, melainkan lebih berisiko mengganggu kesehatan reproduksi perempuan.
“Karena itu, penting sekali untuk selalu menjaga kebersihan, terutama dengan mencuci tangan setelah memegang kucing. Aktivitas seperti mencium kucing dinilai tidak berbahaya selama kebersihan tetap diperhatikan,” kata Siti kepada Tempo, Rabu, 18 Maret 2026.
Siti juga menyebut, meski kucing kerap menjilat anusnya, sistem pertahanan alami pada air liur dan lidah kucing membantu meminimalisir penyebaran kuman.
Catatan Cornell University College of Veterinary Medicine menyebut toksoplasmosis disebabkan parasit Toxoplasma gondii. Kucing dapat tertular parasit ini antara lain dengan memakan hewan pengerat atau burung, atau dari apa pun yang terkontaminasi feses hewan lain yang terinfeksi. Kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan parasit melalui fesesnya hingga dua minggu.
Setelah keluar bersama feses, parasit tersebut perlu matang selama satu hingga lima hari sebelum mampu menyebabkan infeksi. Parasit itu juga dapat bertahan di lingkungan selama berbulan-bulan, sehingga berpotensi mencemari tanah, air, kebun, kotak pasir, atau area lain tempat kucing yang terinfeksi buang air besar.
Menurut Cornell, manusia paling sering terinfeksi karena mengonsumsi daging mentah, sayuran yang tidak dicuci, atau tanah yang terkontaminasi. Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala berat, kecuali pada orang dengan sistem imun lemah atau pada kasus kehamilan.
Gejala toksoplasmosis dapat berupa nyeri otot seperti flu, demam, dan sakit kepala. Dalam kasus yang jarang, gejala lebih berat bisa muncul, seperti kebingungan, kejang, muntah, atau diare.
Upaya pencegahan terutama bertumpu pada kebersihan dasar. Cornell menyarankan penggunaan sarung tangan saat menangani bahan yang berpotensi terkontaminasi, misalnya ketika berkebun atau membersihkan kotak kotoran kucing.
Jika hewan peliharaan menunjukkan gejala penyakit, pemilik disarankan menghubungi dokter hewan. Namun, kucing yang tampak sehat pun dapat menyebarkan kuman kepada manusia dan hewan lain. Kesimpulannya, kucing memang dapat menjadi inang definitif parasit toxoplasma, tetapi jalur penularan utamanya ke manusia adalah melalui feses, bukan kontak langsung seperti mencium bagian tubuh kucing.

