Keragaman dan Kesetaraan Ras dalam Perspektif Islam

Keragaman dan Kesetaraan Ras dalam Perspektif Islam

JAKARTA — Seorang pembicara asal Indonesia kembali menyampaikan pandangannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Rabu, 21 Februari, dalam konferensi internasional bertema keragaman dan kesetaraan ras (Diversity and Racial Equality). Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Religions for Peace, sebuah organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang hubungan antaragama dan perdamaian.

Konferensi itu digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Martin Luther (Martin Luther Day), yang dikaitkan dengan perjuangan kesetaraan ras dan hak asasi manusia di Amerika Serikat. Tema yang diangkat dinilai relevan dengan kondisi dunia saat ini, termasuk dalam konteks sejumlah kebijakan pemerintahan Donald Trump, khususnya di bidang imigrasi, yang disebut dinilai terbuka bersifat rasis.

Dalam paparannya, pembicara menyoroti bahwa rasisme masih menjadi persoalan nyata di Amerika Serikat, negara yang kerap dikenal sebagai “Master of Democracy” dan “Land of Dreams”. Ia bahkan menyebut rasisme sebagai “original sin” atau dosa asal yang membekas dalam sejarah sosial negara tersebut.

Ia juga menekankan bahwa dunia kini berada dalam situasi global yang paradoks. Di satu sisi, globalisasi membuat dunia terasa menyempit dan semakin saling terkoneksi. Namun di sisi lain, keterbukaan dan inklusivitas juga memperbesar keragaman—baik dalam kebangsaan, ras dan etnisitas, budaya, maupun agama.

Menurutnya, keragaman dalam dunia terbuka memerlukan respons yang tepat dan bijak. Cara menyikapi keragaman yang keliru dapat memicu gesekan sosial yang tidak diharapkan, mulai dari bidang ekonomi dan politik, hingga berkembang menjadi konflik bersenjata.

Keragaman dalam pandangan Islam

Dalam perspektif yang disampaikan, Islam menempatkan keragaman manusia bukan semata fenomena sosial, melainkan bagian dari keimanan. Menerima keragaman dipandang sebagai bentuk penerimaan terhadap ketetapan Tuhan.

Pertama, keragaman dipahami sebagai sunnatullah atau ketentuan Allah, sebagaimana dikutip dari Al-Maidah ayat 48: “Dan sekiranya Allah berkehendak niscaya Dia menjadikan kalian semua dalam satu umat.”

Kedua, keragaman disebut sebagai salah satu tanda kebesaran Allah, merujuk pada Ar-Rum ayat 22: “Dan di antara tanda-tandaNya adalah penciptaan langit dan bumi dan perbedaan bahasa dan warna kalian.”

Ketiga, Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia berasal dari sumber penciptaan yang sama. Hal ini dikaitkan dengan Fathir ayat 11: “Dan Allah menciptakan kalian dari tanah.”

Keempat, Islam mengakui universalitas kekeluargaan manusia sekaligus merangkul keragaman, sebagaimana disebut dalam Al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku...”

Kelima, konsep tauhid dipaparkan sebagai ajaran “Satu Tuhan–Satu Kemanusiaan”. Kesatuan kemanusiaan itu diekspresikan dalam Al-Qur’an dengan istilah “nafs wahidah” (An-Nisa ayat 1).

Keenam, keteladanan Nabi Muhammad disebut sebagai contoh dalam merangkul keragaman dan memperjuangkan kesetaraan. Salah satu kisah yang disampaikan adalah pembelaan Nabi terhadap Bilal ketika diperlakukan secara rasis oleh sahabat lain, Abu Dzar, yang memanggilnya “anak dari seorang ibu yang hitam”. Nabi menegur Abu Dzar dengan menyatakan bahwa ia masih memiliki sifat jahiliah.

Contoh lain yang dianggap penting adalah khutbah wada’ di Arafah. Dalam khutbah itu, Nabi menegaskan prinsip kesetaraan: Tuhan satu, asal-usul manusia satu, dan tidak ada kelebihan Arab atas non-Arab atau sebaliknya, serta tidak ada kelebihan orang putih atas orang hitam atau sebaliknya. Ukuran kelebihan disebut hanya ketakwaan.

Ketujuh, konsep “ummah wahidah” atau komunitas yang satu dipaparkan melampaui batas-batas kemanusiaan, termasuk batas rasial. Ukuran kemuliaan dalam komunitas itu kembali ditekankan melalui Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”

Keragaman agama dalam pandangan Islam

Dalam bagian lain, disampaikan bahwa Islam tidak mengajarkan semua manusia akan menerima Islam. Keragaman agama dipandang sebagai bagian dari sunnatullah dalam kehidupan, sekaligus ujian bagi manusia untuk berlomba dalam kebaikan. Penentuan siapa yang menerima petunjuk dan siapa yang tetap berada dalam kesesatan disebut sebagai hak Allah.

Pertama, Islam mengajarkan bahwa agama pada dasarnya satu, yakni meyakini Tuhan yang satu dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Al-Baqarah ayat 286 dikutip untuk menegaskan bahwa kaum beriman mengimani Allah, malaikat, kitab-kitab, dan para rasul, serta tidak membeda-bedakan mereka.

Kedua, Islam disebut sebagai agama misi, namun misinya bukan memaksa konversi, melainkan menyampaikan ajaran Islam secara terbuka dan lurus. Menerima atau menolak Islam disebut sebagai kebebasan masing-masing individu, dengan rujukan: “siapa yang berkehendak hendaklah beriman. Dan siapa yang berkehendak kafir juga silahkan.”

Ketiga, iman dipandang sebagai kesadaran batin yang tidak dapat dipaksakan. Karena itu, paksaan beragama dilarang, dengan rujukan Al-Baqarah ayat 226 sebagaimana disampaikan dalam materi.

Keempat, Islam mengakui dan menghormati eksistensi agama lain, tanpa harus membenarkan atau meyakininya. Prinsip “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Al-Kafirun ayat 5) digunakan sebagai pegangan.

Kelima, konsep kesalehan dalam Islam disebut bersifat universal. Walaupun tiap agama meyakini kebenaran mutlak dalam akidah dan ritualnya, kesalehan sosial dinilai tidak dimonopoli satu komunitas.

Keenam, konsep ketuhanan dalam Islam dipaparkan inklusif dan universal: Tuhan adalah Rabbul ‘alamin (Tuhan semesta alam) dan Rabbu an-naas (Tuhan manusia), sehingga tidak dibatasi oleh ras atau etnis.

Ketujuh, Islam memandang manusia secara positif. Semua manusia disebut terlahir dalam keadaan suci atau fitrah, merujuk Ar-Rum ayat 30. Perbedaan kemudian ditentukan oleh pilihan hidup.

Rasisme disebut sebagai kejahatan

Berdasarkan rangkaian pandangan tersebut, disimpulkan bahwa rasisme dan kebencian kepada orang lain karena perbedaan agama dipandang sebagai kejahatan. Sejarah manusia disebut menunjukkan bagaimana kecenderungan dan perilaku rasis memunculkan berbagai keburukan.

Dalam konteks kekinian, ia menyinggung perlakuan terhadap komunitas imigran non-kulit putih di bawah pemerintahan Donald Trump sebagai contoh yang tampak di hadapan mata.

Ia juga mengaitkan rasisme dengan kisah dalam Al-Qur’an tentang penolakan iblis terhadap perintah Tuhan untuk sujud penghormatan kepada Adam. Penolakan itu disebut didorong sikap merasa lebih unggul karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah (Al-A’raf ayat 12).