Kampung Tongkol Ancol dan Gang Minim Cahaya di Sudut Utara Jakarta

Kampung Tongkol Ancol dan Gang Minim Cahaya di Sudut Utara Jakarta

Di sudut Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, terdapat permukiman padat penduduk yang menyimpan cerita tentang kehidupan dengan penerangan minim. Kawasan itu berada di Kampung Tongkol, tepatnya di RT 07 RW 01, yang oleh sebagian warga dijuluki “Kampung Tanpa Matahari”. Sementara itu, anak-anak setempat menyebutnya dengan istilah lain yang lebih ekstrem: “Gang Setan”.

Di area tersebut, rumah-rumah petak berdiri rapat dan saling berhimpitan. Bangunan-bangunan itu hanya dipisahkan gang sempit dengan lebar kurang dari dua meter. Tumpukan atap seng dan triplek menutup masuknya cahaya dari atas, membuat suasana di dalam gang terasa gelap bahkan pada siang hari. Akibatnya, perbedaan antara siang dan malam nyaris tak terasa, dengan lampu-lampu kecil menjadi sumber penerangan utama, terutama ketika malam tiba.

Untuk mencapai kawasan ini, warga biasanya masuk melalui jalan raya di depan Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu berbelok ke Jalan Krapu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan di pinggir kali hingga tiba di bagian belakang Kampung Tongkol. Akses lain juga bisa ditempuh melalui tangga sempit yang menghubungkan area permukiman dengan bagian atas rel.

Kondisi kawasan ini dipengaruhi oleh kombinasi rel aktif, permukiman yang sangat padat, serta aliran kali di sekitarnya. Situasi tersebut membuat lingkungan setempat kerap dipandang memprihatinkan. Meski demikian, aktivitas warga tetap berjalan sebagaimana biasa.

Ketua RT 07 RW 01 Kelurahan Ancol, Safrudin, menyebut kawasan pinggir kali di Kampung Tongkol telah dihuni sejak sekitar tahun 1970-an. Pada awalnya, rumah-rumah dibangun berbentuk panggung. Seiring waktu, lahan kemudian diuruk dan bangunan berubah menjadi permanen. Adapun permukiman di pinggir rel kereta, yang kini dikenal sebagai kampung tanpa matahari, berkembang dengan karakter lingkungan yang berbeda.