Kajian Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Medan bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menyimpulkan kemiskinan menjadi faktor yang berpengaruh langsung terhadap tingkat kriminalitas. Sementara itu, penyalahgunaan narkoba dalam penelitian tersebut tidak terbukti memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap kriminalitas.
Penelitian dilakukan di lima kecamatan, yakni Medan Helvetia, Medan Sunggal, Medan Tembung, Medan Johor, dan Medan Area. Hasilnya menunjukkan seluruh wilayah penelitian masuk kategori bahaya pada dimensi narkoba, kesehatan sosial, dan kemiskinan. Adapun dimensi kriminalitas berada pada kategori waspada.
Dari lima kecamatan yang diteliti, Medan Johor tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi. Sebanyak 57,5 persen responden di kecamatan tersebut berada pada segmen berisiko tinggi.
Penelitian yang diketuai Dr. Fernanda Putra Adela bersama tim juga mencatat sabu-sabu sebagai jenis narkoba yang paling dikenal masyarakat. Selain itu, pengaruh teman sebaya disebut menjadi faktor dominan yang mendorong penyalahgunaan narkoba.
Tim peneliti turut menemukan adanya hubungan yang kuat antara rendahnya kesehatan sosial dengan tingkat kemiskinan. Berdasarkan temuan itu, penanganan persoalan sosial direkomendasikan dilakukan secara terpadu melalui penguatan ekonomi masyarakat, pencegahan penyalahgunaan narkoba, peningkatan ketahanan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor.
Temuan kajian tersebut dipaparkan dalam Seminar Hasil Kajian Masalah Sosial Masyarakat di Aula FISIP USU, Rabu, 29 Juli 2026. Kegiatan itu dihadiri unsur pemerintah daerah, akademisi, aparat penegak hukum, dan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Menanggapi hasil kajian, Wali Kota Medan Rico Waas melalui Staf Ahli Wali Kota Adlan menilai penanganan narkoba dan kriminalitas tidak cukup mengandalkan penegakan hukum semata. Ia menyebut penguatan ekonomi masyarakat, kesehatan sosial, dan ketahanan keluarga perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan karena persoalan narkoba, kriminalitas, dan kemiskinan saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan menyeluruh berbasis data.
“Kalau kita hanya menyelesaikan satu bagian saja tanpa memperkuat bagian yang lain, hasilnya tidak akan maksimal,” ujar Rico dalam sambutan yang dibacakan Adlan.
Rico juga menyampaikan tingkat kemiskinan di Kota Medan pada 2025 masih berada di angka 7,25 persen. Menurutnya, upaya menciptakan rasa aman perlu diiringi pembukaan kesempatan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Ia menekankan perlindungan generasi muda dari ancaman narkoba harus dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan, rumah ibadah, hingga ruang publik. Pemerintah Kota Medan, katanya, siap memperkuat sinergi dengan BNN, kepolisian, dunia pendidikan, tokoh agama, dan berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan.