Kabupaten Bogor: Potensi Besar di Berbagai Sektor, Sejumlah Isu Sosial Masih Mengemuka

Kabupaten Bogor: Potensi Besar di Berbagai Sektor, Sejumlah Isu Sosial Masih Mengemuka

Berdasarkan data “Kabupaten Bogor dalam Angka 2025” yang dirilis BPS Kabupaten Bogor, Kabupaten Bogor termasuk daerah dengan jumlah penduduk terbesar. Pada 2024, penduduknya diperkirakan mencapai lebih dari 5,5 juta jiwa dengan luas wilayah 2.991,78 kilometer persegi. Posisi Kabupaten Bogor yang strategis sebagai wilayah penyangga DKI Jakarta dinilai membuka peluang pengembangan di berbagai bidang, mulai dari pariwisata, pertanian, ekonomi digital, peningkatan kesadaran pelestarian lingkungan, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sejumlah indikator juga menunjukkan kemajuan. Di sektor pendidikan, rata-rata lama sekolah pada 2024 tercatat 8,39 tahun, naik 0,02 dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada sektor kesehatan, indeks kesehatan 2024 mencapai 84,46, meningkat 0,35 dari tahun sebelumnya. Selain peran pemerintah, partisipasi pemuda serta sejumlah yayasan turut disebut aktif dalam upaya memajukan daerah.

Meski demikian, di tengah dorongan pemanfaatan potensi tersebut, Kabupaten Bogor masih menghadapi persoalan sosial yang dinilai kompleks. Beberapa isu yang mengemuka antara lain alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan perumahan, dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan, angka pengangguran dan kemiskinan yang masih signifikan, angka putus sekolah, serta tantangan terkait keamanan pangan halal.

Dalam pemetaan sektor potensial, pendidikan menjadi salah satu bidang yang menunjukkan tren positif melalui kenaikan rata-rata lama sekolah dari tahun ke tahun. Pendidikan bagi individu berkebutuhan khusus (IBK) juga disebut semakin berkembang. Keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) turut membantu masyarakat yang kesulitan mengakses pendidikan formal, dengan jumlah PKBM di Kabupaten Bogor disebut telah mencapai 196.

Namun, sejumlah persoalan masih menjadi perhatian. Peningkatan rata-rata lama sekolah masih dinilai rendah, sementara kasus anak putus sekolah masih terjadi akibat berbagai faktor. Selain itu, infrastruktur dan fasilitas pendidikan dinilai belum merata, rasio jumlah guru dan murid belum ideal, serta penanganan siswa IBK belum memadai dan belum terjangkau untuk semua kalangan.

Di sektor kesehatan, kondisi Kabupaten Bogor digambarkan memiliki dinamika yang kompleks. Capaian positif terlihat dari angka harapan hidup yang berada pada kisaran 72–74 tahun berdasarkan data BPS Kabupaten Bogor tahun 2024. Namun, tantangan masih besar dalam penanganan masalah kesehatan masyarakat, terutama terkait isu gizi serta pemerataan pelayanan kesehatan dasar.