Sutradara Joko Anwar menyiapkan film terbarunya, Ghost in the Cell, dengan riset yang ia sebut mendalam. Film yang mengusung genre horor-komedi ini, menurut Joko, tidak hanya ditujukan sebagai hiburan, tetapi juga memuat pesan sosial politik yang tajam melalui latar penjara.
Joko mengatakan ide cerita Ghost in the Cell sudah ia kembangkan sejak 2018. Ia memilih penjara sebagai setting karena memandang lapas sebagai miniatur sebuah negara, lengkap dengan struktur dan dinamika di dalamnya.
Dalam pandangannya, penjara merepresentasikan pemerintah melalui kepala lapas, aparat keamanan melalui sipir, serta rakyat melalui para narapidana. Interaksi antarpihak tersebut, kata Joko, dapat menggambarkan situasi yang ia nilai nyata terjadi di Indonesia.
“Aku merasa bahwa penjara itu adalah miniatur dari society. Dan ternyata dengan menggunakan Lapas atau penjara sebagai setting dari sebuah film, kita dengan sangat tajam bisa menggambarkan situasi kita hidup di Indonesia,” ujar Joko Anwar.
Untuk memperkuat gambaran tersebut, Joko mengaku melakukan observasi ke beberapa penjara dan berdiskusi dengan teman-temannya yang pernah menjalani masa hukuman. Salah satu rujukan visual utama yang ia gunakan adalah Lapas Sukamiskin di Bandung, yang dikenal sebagai tempat penahanan narapidana kasus korupsi.
“Tapi dari segi bentuk dan dari segi look-nya itu kita banyak dapat referensi dari Sukamiskin. Bahkan satu sel blok itu yang kanan kirinya terlihat exactly seperti Sukamiskin,” katanya.
Joko juga menyebut film ini menampilkan realitas adanya fasilitas mewah bagi narapidana kasus korupsi yang berbeda dengan sel narapidana lainnya. Unsur tersebut, menurutnya, sengaja dimasukkan untuk menambah realisme cerita.
“Ya realitanya, kita mau nampilin realita aja. Dan isinya juga berdasarkan isi dari penjara mewah yang ada gitu,” tegasnya.

