PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 yang memasuki penyelenggaraan ketiga. Ajang ini diposisikan sebagai forum kolaborasi antara perusahaan dan insan media untuk mengangkat isu-isu strategis terkait kualitas generasi muda melalui pendekatan berbasis data, fakta, dan peliputan lapangan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan media gathering di Jakarta yang sekaligus menandai dibukanya kompetisi AKJJ 2026. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”. Tema tersebut menyoroti perjalanan inisiatif JAPFA for Kids dalam mengumpulkan dan mengolah data mengenai kondisi gizi anak di berbagai daerah di Indonesia.
Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya mengatakan AKJJ menjadi ruang untuk memperkuat peran media dalam menyajikan informasi berbasis data yang berdampak bagi publik. “Melalui AKJJ, kami ingin memperkuat kolaborasi dengan media untuk menghadirkan informasi yang akurat, kontekstual, dan mendorong kesadaran publik terhadap isu-isu penting terkait generasi penerus bangsa,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, 12 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, turut dipaparkan temuan lapangan terkait kondisi gizi anak di Indonesia yang dinilai masih menghadapi tantangan. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk. Sementara data internal di sejumlah lokasi program pada 2025 menunjukkan 6,6 persen siswa masih menghadapi kondisi serupa.
Selain menjadi kompetisi jurnalistik, AKJJ 2026 juga menjadi wadah pertukaran pandangan antara pelaku media, akademisi, dan praktisi kesehatan. Sejumlah juri menekankan pentingnya jurnalisme berbasis data, kekuatan visual, serta edukasi publik untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap isu-isu sosial.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, Akhmad Munir, menilai jurnalisme memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik melalui penyajian data yang kuat dan narasi yang relevan. Sementara fotografer jurnalistik Beawiharta menekankan peran visual dalam memperkuat pesan sosial dari lapangan.
Dari kalangan akademisi, pakar gizi masyarakat Universitas Indonesia Prof. drg. Sandra Fikawati menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat literasi publik terkait gizi seimbang dan pola hidup sehat.
Melalui AKJJ 2026, JAPFA menyatakan berharap lahir karya-karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga memperkaya perspektif publik serta memperkuat peran media sebagai jembatan antara data, fakta, dan realitas lapangan.